1 Timotius 2 : 1 – 8
Lukas 7 : 1 – 10

Refleksi oleh FMC Puspita (Kom. Bernardo Scammaca)

Santo Yohanes merupakan Uskup yang luar biasa dan melakukan banyak sekali perbuatan baik. Ia berkhotbah sekali atau dua kali setiap hari, memberi makan kaum miskin, dan merawat anak yatim piatu. Ia mengoreksi kebiasaan yang penuh dosa dan mencegah perilaku buruk terjadi. Ia mengasihi semua orang, tetapi ia tidak takut menegur.
(http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2013/05/kutipan-dari-santo-yohanes-krisostomus.html?m=1)

“Tidak ada seorang yang dapat beralasan tidak berdoa dengan dalih dipenuhi kesibukan sehari-hari atau tidak dapat berada di gereja. Di mana pun, tidak peduli di mana kamu menemukan dirimu, kamu dapat menegakkan sebuah altar kepada Allah dalam hatimu dengan cara berdoa .”

Kata-kata St. Yohanes Krisostomus  diatas mengingatkanku pada ayat KS yg mengajarkan kita berdoa senantiasa atau berdoa tak kunjung putus, bagaimana bisa ? Bagaimana menegakkan sebuah altar kepada Allah itu ?

Saya melakukannya dg 2 cara :
1. Meneladan Santa Theresia Lisieux : mempersembahkan segala yg kulakukan bahkan hal yg kecilpun seperti – menyapu atau memungut sampah atau tersenyum – kepada Allah demi kemuliaanNya.
Melakukan hal kecil dg cinta yg besar – Bunda Teresa
2. Doa Yesus
Melatih doa dg menyebutkan nama Yesus sampai pada akhirnya secara otomatis menggema dalam hati. Sehingga dapat selalu berdoa dlm kegiatan sehari hari.
Sharing mengenai doa Yesus : berawal dari latihan 5′ setiap hari kemudian 10′ dst hingga 1 jam per hari. Kemudian nama Yesus itu bergema dalam hati bahkan saat tidur. Menikmati kebersamaan dengan Tuhan Yesus setiap hari.

Mari memelihara relasi kita dengan Tuhan dg sungguh2 agar dapat selalu melekat hanya pada Tuhan Yesus. Kiranya Roh Kudus memampukan kita berkomunikasi intens dg Tuhan. Salam sukacita Yesus.

Berkah Dalem.