Yohanes 19: 25-27 & Lukas 2: 33-35
Refleksi oleh Dini (Kom. Bernardo Scammaca)
Peringatan “ Santa Perawan Maria Berdukacita” hari ini mengungkapkan Maria sebagai teladan sempurna dari seorang yang tetap setia berdiri di dekat kayu salib sampai saat kematian Puteranya.
Tindakan kasih sedemikian mengungkapkan kemauan Maria untuk menanggung pencobaan macam apapun. Kesulitan apapun. Dan penderitaan sengsara yang bagaimanapun beratnya agar dapat tetap bersama dengan Yesus, berdoa untuk-Nya dan mendukung Dia. Walaupun hal itu berarti harus menyaksikan kematian-Nya yang mengenaskan di atas kayu salib.
Bayangkan betapa pedihnya hati Maria selagi dia menyaksikan segala ketidakadilan yang menimpa putranya diatas kayu salib.
Maria hanya dapat memandang puteranya dengan kesedihan yang mendalam sambil berdoa kepada Allah. Maria dengan setia berada di dekat salib puteranya itu, darah dagingnya sendiri. Sungguh seorang Ibu sejati.
Sebagaimana telah dinubuatkan oleh Simeon, hati Maria akan ditembus oleh sebilah pedang penderitaan. Akan tetapi kemauan dan kepasrahan Maria yang tanpa syarat keluar dari kedalaman lubuk hatinya. Maria mampu untuk menerima semua penderitaan yang harus ditanggungnya.
Puncak penyertaan Bunda Maria pada saat ia mendampingi Kristus sampai di bukit Golgota, di saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia.
Di kaki salibNya, Maria melihat sendiri apa yang nampaknya seperti pengingkaran total atas apa yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel saat memberikan Kabar Gembira. Nayatanya dihadapan mata Bunda Maria yang terlihat adalah penderitaan Putera-Nya. Betapa besarnya ketaatan iman yang ditunjukkan oleh Bunda Maria di kaki salib itu, di hadapan Allah! Betapa totalnya ia memasrahkan dirinya kepada Tuhan tanpa syarat, mempersembahkan segala kehendak dan pemahamannya kepada Tuhan. Tak ada satupun pemberontakan Maria untuk menolak Tuhan.
Maria yang setia dan tegar berada dibawah salib putranya, menjadi “model” bagi kita semua dengan jawaban “ya” nya kepada kehendak Allah secara berulang kali, baik pada saat-saat penuh kegembiraan maupun saat kedukaan.
Maka marilah kita datang pada Bunda Maria untuk memohon pertolongannya untuk kita semua supaya tetap taat dan setia dalam keadaan apapun kepada Tuhan karena Yesus telah memberikan Bunda Maria menjadi Ibu kita semua.
Doa:
Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas Bunda Maria yang Engkau anugerahkan kepada kami dan menjadi teladan untuk kami semua. Bukalah hati kami ya Tuhan, sehingga kami selalu bersemangat untuk meneladani Bunda Maria, dengan selalu selalu taat dan setia kepada-Mu dan selalu peduli serta penuh kasih pada sesama kami. Amin.
Recent Comments