Yun. 1:1-17;2:10;
MT Yun. 2:2,3,4,5,8;
Luk. 10:25-37;
Apa benar aku mengasihi sesamaku? Apa benar aku memperhatian orang-orang disekitarku? Apa benar aku cinta dengan Allah dan cinta itu nampak dengan hubungaku dengan sesama? Tapi kadang aku masih kurang sabar dengan anak, suami atau orangtuaku? Kadang aku masih suka marah-marah? Atau kadang aku masih suka tidak menghiraukan orang-orang yang aku rasa mengganggu hidupku? Kalau begitu apakah aku masih bisa menperoleh hidup yang kekal?
Sahabat yang terkasih kadang ini menjadi pertanyaan yang terus menerus ada dalam pikiran ini. Kadang kita mau setia dan dekat dengan Tuhan. Tetapi ketika melihat sesama kita yang sedikit bikin kesal biasanya emosi langsung bergejolak. Ketika lihat anak atau orang-orang dirumah bikin sedikit kesalahan rasanya kalau tidak berkomentar atau marah belum puas. Rasanya kita harus berbuat atau berkomentar sesuatu agar yang salah dapat dibenarkan dan tidak menganjal di dalam hati.
Kalau kita lihat bacaan injil hari ini Ketika Yesus memberi perumpaan tentang orang Samaria yang baik hati, tampil orang-orang yang memiliki posisi malah tidak mau ambil langkah untuk menolong dan membantu, karena mereka berpikir dua tiga kali sebelum bertindak, tetapi si orang samaria karena bela rasa dan rasa kemanusia yang begitu besar langsung bertindak dan menolong. Orang Samaria yang sebenarnya orang asing mau turun tangan. Karena memiliki bela rasa.
Sahabat, Ketika kita mau mengasihi sesama kita kadang menegur, membantu, atau menginstruksikan sesuatu hal adalah bagian dari perhatian kita. tapi jangan sampai ucapan dan cara kita malah membuat skandal dan menjadi dosa bagi kita. Yesus mau menunjukan Ketika kita sungguh mau mengasihi sesama kita, maka kita hadir dan berjalan bersama dengan orang-orang disekitar kita. Kehadiran menjadi sangat penting dan memberikan makna tersendiri sebagai wujud kita mau mengasihi.
By Fray El, OP

Trimakasih Frater Elson, inspiras hari ini. Berkah Dalem 👍🙏