
Refleksi Harian Lectio Divina Rabu Pekan ketiga Prapaskah 23 Maret 2022
Bacaan I: Ulangan 4:1, 5-9
Mazmur: 147:12–13, 15–16, 19–20
Injil: Matius 5:17–19
Refleksi hari ini ditulis oleh Para Dominikan Awam Indonesia : Bro Ivan Iman (komunitas Rosa De Lima Surabaya) dan Christina Nico (Komuntas St. Thomas Aquinas Jakarta) dan Clara Fina (komunitas Bernardo Scammacca)
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (Mat 5:17)
PEMIMPIN BARU, ATURAN BARU
Saya melihat & merefleksikan secara pribadi bagaimana sikap saya dlm melihat hukum & aturan gereja yg ada, apakah seperti yg dikehendaki Yesus atau seperti orang Farisi?. Apakah saya taat pada aturan karena saya sadar akan adanya cinta Allah yg besar bagi saya, atau saya taat karena terpaksa atau karena sanksi sosial yg akan saya hadapi jika saya tidak mentaati ya?
Saya sering mendengar dan memang kenyataannya begitu bahwa setiap pergantian pemimpin pasti selalu ada aturan baru lagi. Ini juga saya lakukan ketika saya menjabat sebagai seorang pemimpin baru. Sejatinya aturan2 itu dibuat adalah untuk menjaga ketertiban, teratur, dan membuat hidup menjadi damai, bukan malah untuk ajang pamer kekuasaan bahwa saya lah yang berkuasa sekarang. Tentu dengan kekuasaan saya bisa berbuat seenak udelnya sendiri termasuk membuat aturan2 baru yang mengenakkan buat diri sendiri.
Jujur saja, saya sebagai manusia pada umumnya msh sangat mementingkan hal2 yang bersifat lahiriah, mudah ditangkap oleh indera daripada yg bersifat batiniah. Padahal sesungguhnya apa yang ada di hati, benak dan pikiran saya itu lebih penting. Karena itu besar kemungkinan saya mudah menjadi sosok yang munafik, palsu, penuh kebohongan, pencitraan semata, menipu, berpura-pura, bermuka dua dan kosong batinnya meskipun penampilan fisiknya santun, soleh dan ramah.
Adalah baik juga jika saya mementingkan ritual agama, penampilan agamis, baca Kitab Suci, belajar tafsir Kitab Suci, hafal ayat-ayat, ber-rosario, novena, jalan salib dan ikut misa, tapi jika pada saat yg sama saya kehilangan perasaan kasih sayang dan kemampuan bela rasa lalu menjadi kasar, tega, dan kejam thd sesama, Allah pasti tidak berkenan kepada saya dan saya pun tak pantas mendapat keselamatan yg dari Allah.
Dalam gereja kita pun ada peraturan dalam hidup menggereja. Peraturan tsb dibuat agar saya mempunyai rambu-rambu dalam hidup beriman. Hukum Taurat pada jaman Yesus maupun hukum Gereja saat ini adl bukti cinta Allah pada umatNya. Dia ingin hidup saya selamat. Yesus datang utk menggenapi hukum tsb dg menyerahkan diriNya supaya manusia memperoleh keselamatan.
Oleh karena itu memasuki masa prapaskah ini, saya melihat dan merefleksikan secara pribadi bagaimana sikap saya dlm melihat hukum dan aturan gereja yang ada, apakah seperti yang dikehendaki Yesus atau seperti orang farisi? Apakah saya taat pada aturan karena saya sadar akan adanya cinta Allah yg besar bagi saya, atau saya taat krn terpaksa atau karena sanksi sosial yang akan saya hadapi jika saya tidak mentaati ya? Apakah saya ke Gereja setiap Minggu hanya karena suatu kewajiban atau karena saya ingin bersyukur dan rindu bertemu denganNya dlm Ekaristi? Apakah saya melakukan pertobatan hanya karena kewajiban atau krn saya rindu untuk mohon pengampunan ya? Apakah saya memberi kolekte setiap ada ibadah karena terpaksa atau dilihat orang atau sebagai wujud syukur saya atas kasih karuniaNya? Rahmat Allah sendiri yg memampukan kita untuk itu. Tuhan Yesus memberkati (Ivan Iman)
Peraturan Keluarga Turun Temurun
“Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada Nya?” (Ul 4 : 7)
“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah semuanya itu kepada anak-anakmu dan kepada cucu-cucumu serta cicitmu.” (Ul 4:9)
Peraturan yang baik dan berkenan di hadapan Tuhan, sebaiknya dipelihara turun temurun sebab akan menjadi hal berguna bagi keturunan selanjutnya untuk masuk ke dalam surga.
Ketika saya kecil, ada beberapa peraturan yang berlaku di dalam keluarga saya. Mulai dari peraturan yang umum (memang sudah di ikuti selain keluarga saya) misalnya, sebelum makan harus menawarkan kepada orang tua terlebih dahulu, setiap hari minggu harus ke gereja. Sampai peraturan yang agak “berbeda” dari keluarga keluarga lain, misalnya, setiap kali makan harus dengan sup atau makanan berkuah, setip beli buah semangka, sebelum di potong harus di rendam dalam bak air dulu (agar dingin dan segar sebelum dipotong).
Peraturan tersebut diteruskan turun temurun hingga anak saya pun mengetahui dan terbiasa melakukan nya. Sehingga ketika Mama saya berkunjung ke rumah saya, dia pun akan senang karena melihat cucu cucu nya berlaku sopan dan santun.
Ketika saya renungkan dengan bacaan pertama hari ini, sebenarnya Bapa surgawi kita juga menginginkan hal yang sama dari kita sebagai anak anak nya yang masih hidup di dunia. Seluruh hukum taurat dan ketentuan yang pernah diberikan Allah Bapa, akan tetap berlaku selama lama nya. Sejak jaman Kain dan Habel hingga dirumuskan nya sepuluh perintah Allah pada jaman Musa, sudah berlaku peraturan, perintah dan larangan yang di inginkan Allah. Allah adalah Bapa surgawi kita dan kita anak anak Nya. Hubungan yang sangat indah, karena kita sudah diangkat dari sekedar ciptaan menjadi anak Nya. Sudah layak dan sepantasnya kita mematuhi peraturan Nya, menjaga hati Nya, agar Bapa tetap bahagia melihat kita menjadi anak yang baik. Tidak lupa, sudah menjadi kewajiban kita untuk meneruskan, mengajarkan, mengingatkan anak, cucu, saudara atau siapapun juga mengenai segala peraturan dan ketetapanNya, agar kelak kita beserta seluruh keturunan, saudara dan teman kita bisa memperoleh kebahagiaan kekal bersama Nya sebagai janji dari Nya. (Christina Nico)
“Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5 : 17)
Ketika membaca ayat ini, aku sebagai seorang awam bertanya apa maksud dari Yesus tentang hukum Taurat ini? Pengajaran Yesus yg radikal dan menuntut utk perubahan manusia. Ayat ini mengajak kita untuk memahami, menghayati, memgamalkan, serta mengajarkan hukum Tuhan dalam keutuhannya, terkadang Alkitab hanya aku cari yang menghibur saja sesuai dengan kondisi dan keadaan diri aku yg sedang sedih dan yang menarik saja. Sering kali aku mengabaikan ajaran dan sabdanya yang mengecam dan yang menuntut perubahan sikap hidup yg radikal dari pihak kita. Yesus ingin mengubah dan meluruskan hukum Taurat dengan hukum kasih yang Ia ajarkan bagi kita, namun keegoisan sering sekali menguasai diriku untuk tidak mengikuti ajaranNya.
Di jaman ini ada banyak peraturan dan hukum yang beredar. Dasarnya tetaplah sama, yakni demi keselamatan manusia dan menegaskan cinta kasih. Harusnya hukum tidak menguasai manusia untuk bertindak semena mena tapi hukum justru membahagiakan manusia, namun kenyataan yang terjadi di lapangan sangat berbeda dengan teori yang diajarkan Yesus ini. Ketidak adilan dan kesewenang wenangan terjadi di sini. Bahkan sering terjadi hukum rimba yang berlaku. Apakah selama ini aku memahami diriku untuk peka terhadap ketidak adilan yang terjadi di depan mataku?? Atau aku hanya diam dan membiarkan semua terjadi??? Apakah ada rasa peduliku pada sesama terlebih pada keluargaku? Apakah arti hukum kasih dalam tiap kehidupanku, mungkin selama ini hidupku hanya lurus- lurus saja yang penting aku tidak merugikan orang lain, namun ternyata hari ini aku kembali diingatkan bahwa ada kasih Tuhan yang selama ini tidak aku lakukan dalam hidupku yaitu peka dan peduli terhadap sesamaku.
Aku makin menyadari tentang pengajaran Yesus tentang meluruskan hukum Taurat dengan kasih pada sesama sekecil apapun itu. Dan yang aku makin tahu adalah bahwa hidupku tidaklah hanya lurus lurus saja tetapi juga harus makin memahami orang lain dan membagikan kasih pada mereka. (Clara Fina)
Kalo saya renungkan, gaya kepemimpinan versi Ki Hajar Dewantoro yi: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo mBangun Karso, Tut Wuri Handayani; adalah juga manifestasi karakter kristiani