
Renungan Harian Hari Ke-22 Jumat Pekan Ketiga Prapaskah Pesta Kabar suka cita
Bacaan I: Yesaya 7:10–14; 8:10
Mazmur: 40:7–8a, 8b–9, 10, 11
Bacaan II: Ibrani 10:4–10
Injil: Lukas 1:26–38
Kita dapat menganggap perayaan hari ini sebagai Pesta Inkarnasi Gereja, dan pesta yang luar biasa!
Saat kita semakin dekat ke Kalvari, itulah pengingat yang menggembirakan bahwa iman Katolik kita berakar pada peristiwa sejarah nyata. Yesus Kristus benar-benar dikandung di sebuah kota nyata bernama Nazaret di wilayah nyata yang disebut Galilea, oleh seorang wanita sejati bernama Maria, yang bertunangan dengan seorang pria sejati bernama Yusuf, yang berasal dari keturunan Daud.
Berbeda dengan mitos Yunani-Romawi kuno yang tampaknya tidak pernah terjadi dalam waktu atau tempat yang sebenarnya, Mitos Kristiani terungkap secara literal dalam ruang dan waktu. “Inilah mitos yang dijadikan fakta,” seperti dikatakan C. S. Lewis. Dan jika kita merasa hal ini luar biasa dan, melampaui akal sehat, bayangkan saja bagaimana perasaan Maria! Namun dialah panutan kita yang sempurna justru karena dalam menghadapi begitu banyak ketakutan dan ketidakpastian, dia tak pernah berhenti untuk selalu percaya.
Sungguh menarik apabila kita membandingkan tanggapannya terhadap malaikat Gabriel, dengan tanggapan Zakharia pada beberapa ayat sebelumnya. Ketika diberitahu bahwa istrinya akan melahirkan seorang putra, Zakharia menjawab, “Bagaimana aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya” (Lukas 1:18). Di sisi lain, tanggapan yang diberikan Bunda Maria, sungguh halus tetapi sangat berbeda: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34).
Dua jawaban serupa, namun Maria menerima dukungan, sedangkan Zakharia ditegur dan bahkan dibuat bisu. Perbedaannya adalah bahwa Zakharia perlu mengetahui apa yang Tuhan lakukan dan bagaimana caranya, sedangkan Maria puas hanya dengan percaya. Sedangkan Zakharia merasa, dia harus mengungkapkan alasannya dan bahkan mungkin menyudutkan Tuhan; Maria hanya mencari petunjuk ilahi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Begitu sering dalam hidup, kita mencari kejelasan tentang masa depan, dan berkali-kali untuk alasan yang baik. Meski demikian, kita harus menantang diri kita sendiri, menanyakan apakah alasan itu, yang bisa tampak begitu baik dan bijaksana, telah menjadi batu sandungan yang membuat kita semakin jauh dari Bapa.
Tentu saja, kita harus membuat rencana dan berhati-hati. Tetapi pada saat yang sama, kita tidak boleh membiarkan ini menjadi ungkapan pengganti kepercayaan yang nyata kepada pemeliharaan Tuhan yang tak pernah gagal.
Mengambil gadis Nazaret yang tidak berdosa sebagai model kita hari ini, marilah kita berdoa memohon rahmat agar dapat menuju hati nurani terdalam dan berdoa dengan ketulusan yang besar, “Yesus, aku percaya pada-Mu!”
Apakah saya telah memercayai Tuhan sebanyak yang saya pikir saya imani?
Apakah yang Tuhan minta dalam hidup saya, agar saya percayakan kepada-Nya dengan cara baru di hari ini?
Renungan dari buku Journey Through Lent, Reflections on the Daily Mass Readings by Clement Harrold.
Renungan dari buku Journey Through Lent, Reflections on theDaily Mass Readings by Clement Harrold.
Recent Comments