Refleksi Lectio Divina Prapaskah ketiga

Renungan Harian Hari Ke-21 Jumat Pekan Ketiga Prapaskah Hari Raya Kabar Sukacita

Bacaan I: Yesaya 7:10–14; 8:10  Mazmur: 40:7–8a, 8b–9, 10, 11

Bacaan II: Ibrani 10:4–10

Injil: Lukas 1:26–38

Refleksi hari ini ditulis oleh Para Dominikan Awam Indonesia : Bro Ivan Iman (Komunitas Rosa De Lima Surabaya), Christina Nico (Komunitas St.Thomas Aquinas Jakarta)

PERCAYA TANPA MELIHAT

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.  (Luk 1:38)

Sukses dan kegagalan tidak ada seorang manusia pun yang bisa menentukannya. Demikian pula halnya dengan apa kelak yang terjadi dalam hidup saya, sayapun tidak tahu. Saya masih bisa bernafas dan melakukan aktivitas sampai hari ini adalah atas kehendakNya. Saya hanya bisa berseru ya Tuhan “terjadilah padaku menurut kehendakMu”

Ketika saya mencoba untuk merenungkan bacaan Injil hari ini, saya terkadang terjebak kepada sebuah pemikiran bahwa iman dari Bunda Maria itu sudah begitu matang, tetapi saya harus menempatkan pada konteksnya. Ketika malaikat Gabriel itu datang kepada Bunda Maria, bisa dikatakan Bunda Maria itu masih sangat muda. Imannya pun masih dlm proses pembentukan, sehingga kalau saya mau mencoba untuk masuk dalam diri Maria muda yang menerima kabar dari malaikat Gabriel, tentu sekali lagi bukan hal yang mudah yang dirasakan yang dialami oleh Maria muda itu. Begitu banyak pemikiran yang ada di dirinya. Tantangan-tantangan dan juga kesulitan-kesulitan ketika akhirnya mengatakan dan juga menjawab Ya terhadap kehendak Allah itu sendiri. Dan satu hal yang menarik lagi adalah ungkapan iman dari Bunda Maria muda itu. Masa depan Bunda Maria sendiri tidak akan tahu, tapi satu hal yang ia pegang bahwa Allah memiliki rencana yang indah untuk dirinya.

Kadang kalau saya melihat didalam pengalaman hidup, saya terkadang terbebani oleh yang namanya masa depan. Ketakutan-ketakutan akan masa depan. Besok seperti apa ya? Tetapi satu hal menjadi beriman berarti menjalani hidup dan mempercayakan hidup kepada Tuhan. Berani untuk berkata “Terjadilah padaku sesuai dengan kehendakMu”. Apakah itu mudah? Mudah untuk diungkapkan tetapi sulit untuk dijalankan. Ketika saya berani untuk mengatakan ungkapan iman seperti halnya Maria, saya diajak juga tidak kemudian menjadi lemah ketika saya menghadapi tantangan-tantangan hidup, karena terkadang Tuhan pun juga hadir lewat tantangan-tantangan hidup saya.

Oleh karena itu mari belajar dari pribadi Maria, belajar untuk menjadi lebih beriman. Menempatkan Tuhan lebih daripada diri sendiri. Menempatkan kehendak Tuhan lebih utama daripada kehendak saya sendiri. Rahmat Allah sendiri yg memampukan kita untuk itu. Tuhan Yesus memberkati. (Ivan Iman)

 

Kabar Suka Cita ?

“Kata Maria : “ Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” (Lukas 1:38)

Sebuah kabar akan menjadi kabar suka cita ketika di percaya dan di imani dengan sepenuh jiwa dan raga ; walaupun terkadang kita tidak mengerti makna dan penggenapan dari kabar suka cita tersebut.

Sesudah saya dan suami mengikuti sebuah retret pertobatan yang baru pertama kali  diikuti, kami mendapat sebuah kabar yang sangat mengecewakan.  Suami saya di mutasi untuk menangani sebuah departemen baru, karena dianggap lebih dibutuhkan di sana dan akan lebih cocok atau lebih berprestasi di sana. Suami sungguh kecewa berat dan berulang kali ingin berhenti dari posisi baru nya. Terkadang ketika berdiskusi dengan saya, ia pun masih terbawa emosi yang meletup letup.  Entah darimana saya mendapatkan hikmat dan ketenangan (mungkin dari Roh Kudus yang kami terima dari retret), untuk bisa menenangkan dan menghibur suami saya. Saya mengatakan, bahwa dia memang lebih cocok di departemen barunya. Dengan kemampuan berpikir analitis yang baik, sepertinya ia memang lebih dibutuhkan di sana. Saya pun melanjutkan penghiburan dan cara sudut pandang baru, bahwa dengan berada di departemen baru, ia akan jarang keluar kota, dan akan jarang lembur sebab beban pekerjaan lebih ringan; sehingga waktu untuk bersama keluarga lebih banyak. Suami saya menerima penjelasan saya, walaupun ia masih berusaha mencari pekerjaan lain. Namun entah kenapa, semua lowongan seolah olah berhenti mendadak di tahap wawancara akhir sebelum diterima kerja.

Saat ini, setelah 7 tahun berlalu dari kejadian tersebut. Suami saya menjadi direktur dari departemen tersebut. Bahkan menjadi salah satu tangan kanan pemilik perusahaan dalam menentukan arah bisnis dan gerak organisasi. Kesejahteraan keluarga pun bertambah baik, seiring dengan kenaikan pangkat suami.  Jika saya dan suami merefleksikan ulang hal ini, kami sangat bersyukur dan merasa Allah Bapa sangat baik. Walaupun saat itu, kami tidak paham rencana Nya, namun ternyata sudah dirancang dengan sangat indah bagi kami yang dikasihi Nya. Kami pun menganggap, proses mutasi itu adalah hadiah dari pertobatan kami berdua karena mau kembali ke jalan Tuhan.

Apakah kisah yang saya alami sama dengan kisah Bunda Maria ketika menerima kabar gembira bahwa dia akan mengandung Yesus ? dalam dua kejadian ini, kami sama sama menerima kabar gembira yang membingungkan. Tidak bisa di pahami, bahkan bisa di tangkap sebagai kabar buruk. Coba bayangkan, Bunda Maria yang masih berusia belia dan belum menikah harus menerima kabar akan mengandung dan melahirkan anak dari Roh Kudus. Walaupun kejadian ini akan menjadi kabar gembira sepanjang masa, namun pastinya ketika menerima pesan itu, Bunda Maria mengalami pergumulan dan kebingungan juga.

Namun disinilah letak perbedaan yang menunjukkan kedalaman iman Maria. Respon Bunda Maria begitu indah, anggun dan bersahaja. Dengan tenang dan penuh kepasrahan, ia menjawab ,”Terjadilah padaku menurut perkataan mu”. Bukan dengan sikap seperti kami, yang tidak terima, berkeluh kesah, marah, emosi meletup, panik ketika menerima kabar sukacita. Hal ini menandakan begitu dalam nya hubungan Maria dengan Allah, sehingga ia percaya bahwa Allah tidak akan mengecewakan nya, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi nya.

Inilah kabar suka cita yang sempurna. Mengapa sempurna? Karena kabar ini diterima dengan suka cita dari awal. Bagaimana Allah yang menyayangi kita, ingin memberikan yang terbaik bagi kita, dan respon kita seharusnya bersuka cita menerimanya, mengucap syukur dan berterima kasih. Kesempurnaan relasi antara Bunda Maria dan Allah Bapa menjadikan sebuah kabar suka cita itu sungguh berjalan dengan sempurna dan indah.

Semoga tulisan ini bisa menjadi peneguh bagi kita, untuk terus percaya dan jangan pernah meragukan Tuhan dalam setiap langkah dan kejadian yang terjadi dalam hidup kita. Percayalah…Allah itu Bapa yang baik…rencana Nya tak terselami oleh pikiran manusia.  Mari kita berusaha menerima kabar sukacita dalam hidup kita dengan sempurna. Sempurna dalam suka cita dan kepasrahan untuk menanggapi rencana Allah yang terbaik bagi kita. (penulis Christina Nico)