Refleksi Sabtu pekan ketiga Prapaskah

Refleksi Harian Lectio Divina Hari ke-23 Sabtu Pekan ketiga Prapaskah Hari Raya Kabar Sukacita

Bacaan I: Hosea 6:1–6 Mazmur: 51:3–4, 18–19, 20–21ab

Injil: Lukas 18:9–14

Refleksi hari ini ditulis oleh Para Dominikan Awam Indonesia : Bro Ivan Iman (Komunitas Rosa De Lima Surabaya) dan  Maria Athariyanti (Komunitas Bernardo Scammacca Jakarta)

DONT JUDGE PEOPLE BY THE COVER

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  (Luk 18:14)

Sosok perlente, necis, rapi, tentu akan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Apalagi ditambah dengan pengetahuan rohani yang mumpuni, aktif lagi disemua kegiatan rohani baik di gereja maupun komunitas. Saya acap terjebak dengan keadaan seperti itu. Terfokus hanya casingnya saja, tanpa melihat isi dalamnya.

Menjadi sosok orang yang dihormati & menjadi orang terhormat dihadapan banyak orang merupakan suatu keinginan hidup bagi siapa saja, termasuk saya. Apalagi ditambah dengan posisi/jabatan yang strategis. Saya merasa kalau menjadi orang  yang terhormat dalam kehidupan ini pasti membuat saya merasa menjadi yang lebih segala-galanya dibandingkan mereka yang lain. Saya merasa lebih pantas melakukan ini itu dibanding mereka, apalagi jika itu menyangkut dengan hal-hal kerohanian. Saya lah yang paling benar dan paling mengetahuinya. Yang lain itu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sifat ego dan percaya diri berlebihan tampak muncul dari diri saya. Lebih suka menilai orang lain daripada saya dinilai oleh orang, karena saya adalah orang benar.

Melalui bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus mengingatkan dan menegur saya lewat kisah orang farisi dan pemungut cukai. Orang farisi begitu luar biasa memandang dirinya. Mereka bukan hanya menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang paling “bernilai” dihadapan Tuhan, tetapi juga mampu memberikan penilaian kepada orang lain. Ini sangat bertolak belakang dengan pemungut cukai, sosok yang dimasa itu dituding berkelakuan buruk dan jahat. Walupun demikian justru si pemungut cukai memiliki kerendahan hati dan takut akan Tuhan. Pemungut cukai ini bahkan tidak berani “memandang” Tuhan karena menyadari betapa dirinya benar-benar tidak layak.

Lewat kisah perumpamaan ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada saya bahwa orang-orang yang sungguh bertobat tidak datang kepada Allah dengan kebanggaan diri seolah layak menerima pembenaran dari Allah. Padahal Allah melihat hati dan memandang kejujuran lebih berharga daripada pembenaran diri. Inilah cara pandang yang baru yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada saya jika benar-benar ingin bertobat dan datang kepada Allah. Kerendahan hati dihadapan Allah lebih berharga daripada segudang tindakan yang membanggakan.

Oleh karena itu di masa retret Agung ini saya yang mengaku murid Kristus, hendaknya mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar memiliki cara pandang yang sama dengan Allah. Bukan daftar penuh dengan berbagai tindakan yang membanggakan diri yang akan membuat saya berkenan di mata Allah, melainkan hati yang menyadari ketidak layakan diri saya dan membutuhkan perkenan Allah. Rahmat Allah sendiri yang memampukan kita untuk itu. Tuhan Yesus memberkati🙏. (IVAN IMAN)

 

Kerendahan Hati dalam Bertobat Kepada Allah

Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan/Meditatio :
Segala usaha pertobatan kita pada masa Prapaskah ini mengandung sebuah tuntutan yaitu agar kita tidak menyombongkan diri, alih-alih karena kemampuan kita sehingga kita berpikir mampu bertobat tanpa bantuan rahmat Allah, kita malahan meninggikan diri di hadapan Allah. Inilah sikap orang Farisi yang dikecam oleh Yesus.

Usaha pertobatan yang kita lakukan tak lepas dari kuasa rahmat Allah yang bekerja di dalam diri kita, karena Dia-lah yang menyembuhkan kita, membalut luka kita bahkan Yesus rela menderita dan wafat untuk menebus dosa kita serta membangkitkan kita pula dengan kebangkitan-Nya.

Yesus telah melanjutkan karya keselamatan Allah dengan menebus dosa kita walau tanpa jasa kita sedikitpun. Meskipun begitu, janganlah kita lupa bahwa karya keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus kepada kita itu menuntut kehendak bebas kita yang berujung pada pertanggungjawaban kita. Jadi bukan artinya kita telah ditebus oleh darah-Nya sehingga kita tidak perlu berdoa, tidak perlu berbuat kebaikan, tidak perlu berbuat apa-apa/tidak peduli pada sesama, tidak perlu mengaku dosa, dll; karena jika demikian maka kita telah jatuh pada dosa kesombongan karena kita telah membalikkan posisi seolah-olah Tuhan yang memerlukan kita padahal kita-lah yang sangat memerlukan belas kasih-Nya melalui keselamatan yang ditawarkan Yesus kepada kita. Maka usaha pertobatan kita harus membuat sungguh-sungguh mengenal Tuhan dan cara kerja-Nya yang ajaib.

Kita dapat mencontoh dan belajar dari Bunda Maria sebagai tokoh/figur keteladanan kita yang dilambangkan dengan ketaatan dan kerendahan hati yang sempurna sehingga Bunda Maria sungguh-sungguh dapat berserah diri secara utuh dan penuh sukacita kepada Allah dengan mengatakan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” juga puji-pujiannya kepada Allah dalam Magnificat Kidung Maria. Dengan penyerahan diri secara sungguh-sungguh dan utuh ini maka tentunya Bunda Maria tidak pernah berpikir untuk meninggikan dirinya melainkan merendahkan dirinya di hadapan Allah.

Berdoa/Oratio :
Ya Bapa, bantulah kami untuk mengenal kehadiran-Mu dan jangan biarkan kami tersandung oleh kesombongan diri melainkan ajarilah kami untuk senantiasa tekun melatih diri dalam kerendahan hati seperti yang telah Yesus, Putera-Mu dan Bunda Maria teladankan kepada kami. Amin

Kontemplasi/Contemplatio :
Membuka diri pada bimbingan Roh Kudus untuk melatih diri agar lebih sabar dan rendah hati serta tidak sombong dalam segala hal bahkan dalam hal yang terkecil sekalipun.