Ditulis olek Krisantus (Kom. Bernardo Scammaca)
Bacaan Injil= Mrk 9:38-48
Ayat yg berkesan= Mrk 9:39
Renungan/refleksi:
Ironi memang sejak awal cerita. Sebelumnya (bdk.Mrk 9:18), para murid Yesus gagal mengusir roh jahat. Namun sekarang ada orang lain, tanpa-nama, sukses mengusir roh jahat dalam nama Yesus. Tentu saja para murid melarang dia! Mengapa? Orang itu kan tidak punya wewenang, karena dia “bukan pengikut kita”. Fokus dan perhatian para murid belum berubah: masih seputar kuasa dan identitas.
Yohanes dkk ingin mengklaim Yesus untuk kelompok mereka saja. Mereka ingin menjadi pemilik tunggal copy-right dan “hak membuat mukjizat”. Tentu itu semua agar mereka menjadi penting dan selalu dibutuhkan. Itulah godaan abadi dalam beragama . Selalu saja ada kelompok yang ingin memonopoli Tuhan dan memagari Surga!
Yesus tidak sepakat. Ia dengan tegas menolak intoleransi dan sikap picik para murid-Nya. Mengapa? Karena dua alasan. Pertama, alasan praktis: siapa saja yang melakukan sesuatu yang baik dalam nama-Nya, jelas tidak mungkin pada saat yang sama juga menjelekkan nama-Nya (ay.39). Kedua, alasan yang lebih menyangkut prinsip: setiap orang yang “tidak melawan kita” harus dipandang sebagai simpatisan dan pendukung kita.
Yesus menegaskan bahwa Dia itu Tuhan untuk semua . Karya keselamatan-Nya dapat diteruskan juga oleh orang di luar jemaat Kristen. Pandangan positip dan inklusif ini sungguh relevan di nusantara kita yang bhineka. Dimanapun orang terilham oleh Tuhan untuk berbuat kebaikan, kita harus yakin bahwa dia defakto sudah meluhurkan nama Tuhan. Semua orang seperti itu harus dipandang sebagai rekan seperjuangan kita dalam menghadirkan cinta-kasih, inti ajaran Tuhan kita!
Akan tetapi, sikap terbuka keluar harus juga diimbangi dengan sikap awas ke dalam. Inklusif dan mawas-diri itu seiring-sejalan. Itulah yang juga ditegaskan Tuhan. Jemaat harus waspada terhadap dosa dan sandungan dalam jemaat. Setelah memakai bahasa yang lembut dan terbuka, sekarang kosa-kata Tuhan berubah: batu-gilingan, neraka, api abadi bahkan ‘mutilasi’. Pokoknya: biang dan sumber sandungan harus dilenyapkan. Tangan dan kaki dipenggal, mata dicungkil, jika organ-organ itu menjadi penyebab sandungan.
Tentu ini bahasa kiasan saja. Tidak seorangpun yang berani melakukannya secara harfiah. Rumusan yang terkesan kejam ini bertujuan pencegahan: penyesatan dalam jemaat, khususnya terhadap mereka yang baru bertumbuh atau yang masih lemah imannya, harus dengan tegas dicegah. Setiap sikap, kata dan tindakan yang menyebabkan rekan seiman menjadi murtad dan kehilangan iman adalah skandal besar, yang harus dengan keras dicegah, sebelum keduanya (penyesat dan yang disesatkan) binasa dalam neraka!
Tindakan preventif seperti itu tentu tidak mudah, bahkan menyakitkan. Tetapi itu jauh lebih baik daripada siksaan abadi. Yesus mengajak Saya dan Anda untuk terus berlatih dan menempah diri agar akar-akar kejahatan dicabut dari dalam diri kita, sehingga kita tidak menjadi batu-sandungan bagi iman sesama. Bagi Yesus, saling menjaga pertumbuhan iman itu jauh lebih penting daripada sibuk mengawal hak dan kuasa lembaga agama, ataupun berdebat tentang batas-batas Surga.
Recent Comments