Renungan Adven Lectio Divina dari buku Mengikuti Jejak Kristus Thomas A Kempis Mengikuti Jejak Kristus – Thomas A Kempis Sabtu 18 Des 2021 Buku 1 No.I.18: Hal teladan para Bapa Kudus.

Renungan Adven Lectio Divina dari buku Mengikuti Jejak Kristus Thomas A Kempis

Mengikuti Jejak Kristus – Thomas A Kempis Sabtu 18 Des 2021

Buku 1 No.I.18: Hal teladan para Bapa Kudus.

Renungan oleh Bp Theo Atmadi OP (Dominikan Awam Indonesia)

Banyak hal keteladanan dan sikap hidup para Bapa Kudus yang mengagumkan, menimbulkan ketakjuban, karena memang dibandingkan dengan mereka, kita ini tiada apa-apanya! Namun yang menarik perhatian saya adalah kalimat berikut ini:

“Mereka tidak lupa dengan sekuat tenaga berusaha menundukkan hawa nafsu mereka. Dengan tulus ikhlas segala-galanya mereka tujukan kepada Tuhan” – (MJK I.18 – point 4)

Segala-galanya mereka tujukan kepada Tuhan, bukankah itu berarti juga bahwa mereka hanya ingin melaksanakan apa yang menjadi kehendak Tuhan? – artinya, dengan tulus ikhlas, mereka hanya ingin mempersembahkan kebebasan dirinya untuk diselaraskan dengan kehendak Tuhan saja.

Dalam kenyataan hidup, seringkali kita melihat ada 2 jenis pribadi: orang yang selalu beruntung, hidupnya enak, selalu gembira dengan banyak teman dan rejeki yang berkecukupan. Namun ada juga pribadi yang seakan malang terus. Walaupun sudah berusaha keras, mati-matian dan mempertaruhkan hidup tetapi selalu tidak berhasil, mengalami petaka dan seolah hidup ini menjadi beban yang tak berkesudahan… Apa beda antara kedua situasi itu?

Mungkinkah ada kaitan dengan rencana kasih Allah? Maksudnya begini: Tuhan Allah menciptakan kita dengan tujuan tertentu. Bila kita berjalan seturut kehendak Allah, maka kita akan ada dalam situasi damai sejahtera, namun apabila kita menjalani hidup tak sesuai kehendak-Nya, kita akan merasa tegang, gelisah dan tidak aman. Hidup terasa tidak nyaman. Karena sebetulnya kemalangan itu adalah sebuah peringatan supaya kita berhenti sejenak, merefleksikan dan kemudian mengubah arah ke jalur yang Tuhan kehendaki. Kalau kita tidak kembali ke jalur yang Tuhan kehendaki, kita akan mengalami kemalangan lagi. Sampai suatu ketika kita akan kembali pada jalur-Nya.

Di akhir tahun ini, biasanya kita menengok kembali perjalanan hidup kita, entah ada yang baik atau buruk, peristiwa negatif, peristiwa positif, pengalaman dilecehkan secara psikologis, atau pengalaman kekerasan yang lain, namun ada juga pengalaman-pengalaman bagus seperti dicintai, diterima, diberi peran yang kita sukai, dan lain sebagainya, semuanya itu bukanlah suatu kebetulan! Semuanya terjadi, dan membuat kita seperti adanya sekarang ini. Itulah kenyataan. Maka marilah kita melihat masa lalu kita, bukan hanya di tahun yang sudah hampir berlalu ini, namun tidak dengan menilai, menghakimi atau hanya ingin menemukan mana yang baik dan mana yang buruk. Kita lihat saja, amati dan sadari. Yang utama, kita bersyukur dan berterimakasih, apapun yang sudah kita jalani. Sebab dengan semua peristiwa itulah kita ada seperti sekarang ini. Kita tidak bisa menolak masa lalu. Yang baik kita terima sementara yang buruk kita tolak. Bukan begitu! – baik atau buruk masa lalu, itulah yang membuat kita seperti sekarang ini. Tidak ada sesuatu yang kebetulan, jadi marilah menerima diri seperti adanya kita kini. Peristiwa baik atau buruk tetap kita terima, sebagai modal untuk meneruskan perjalanan hidup kita. Bila biji gandum tidak jatuh dan mati, dia akan tetap tinggal sebiji, tetapi kalau ia jatuh dan mati, ia akan tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah.

Marilah kita mulai dari apa yang ada, kita siap untuk terus maju, menggapai apa yang diharapkan Allah bagi kita. Ingat, bahwa setelah ber-refleksi di akhir tahun ini, masih ada hari esok yang akan kita jalani. Baiklah kita jalani bersama dalam Persaudaraan Dominikan Awam, dengan berbela-rasa, saling memperhatikan, saling menolong dan bekerjasama untuk mencapai tujuan hidup kita.

Meditatio:

Kita diciptakan oleh Allah pasti dengan tujuan atas hidup kita, dan tujuan itu adalah: hendaklah kamu menjadi kudus dan sempurna, seperti Sabda Yesus: “Hendaklah kamu mengasihi semua orang! Dengan demikian kamu akan menjadi sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” – (Matius 5:48) – Itulah tujuan hidup kita yang sesungguhnya, menjadi kudus dan sempurna seperti Bapa di surga.

Marilah kita berdoa:

Allah bapa yang maharahim dan sempurna, kami bersyukur karena apabila hari ini kami masih dalam peziarahan, artinya masih ada kesempatan bagi kami untuk terus maju, memperbaiki jalan hidup kami, sehingga pada akhirnya nanti, kami boleh mencapai apa yang terbaik, yaitu apa yang Engkau kehendaki terjadi atas diri kami, menjadi kudus dan sempurna seperti Engkau di Surga ya Bapa. Ampunilah kesalahan, keteledoran dan ketidak mampuan kami untuk dapat selalu mengerti apa yang Engkau kehendaki, namun, seperti Engkau telah memberi kemampuan kepada para kudus-Mu, berikanlah itu juga kepada kami, sehingga kami dapat semakin mengerti kehendak-Mu dan tidak akan tersesat, sehingga pada akhirnya nanti, kami bisa berkumpul kembali bersama-Mu di Kerajaan-Mu di Surga.

Actio:

Ketika aku makin mengerti diriku, maka semakin aku bisa memberikan diri kepada keluargaku, sesamaku, khususnya juga dengan keberadaanku sebagai anggota Persaudaraan Dominikan Awam, juga sebagai bagian dari Keluarga Dominikan. Aku akan aktif mewujudkan Kehendak Tuhan seperti tertulis di Injil Matius 5:48, dalam keberadaanku.-