Renungan Lectio Divina dari Buku Mengikuti Jejak Kristus-Thomas A Kempis Buku 1 Bab 1 Menghindari Percakapan Yang Tidak Perlu Senin,23 Desember 2021

Renungan Lectio Divina dari buku Mengikuti Jejak Kristus Thomas A Kempis

Mengikuti Jejak Kristus-Thomas A Kempis
Buku 1 Bab 1 Menghindari Percakapan Yang Tidak Perlu
Senin,21 Desember 2021
Renungan oleh Sis Christina (Dominikan Awam kelp Inisiasi)Selama masa pandemic, menjadi masa kebahagiaan bagi jiwa saya. Karena saya merasa bisa merasakan ketenangan, kedamaian, jauh dari hiruk pikuk kesibukan dunia. Saya memiliki banyak waktu luang untuk membaca buku rohani, untuk berdoa dan mengembangkan hobby baru yang menyenangkan.
Ketika semua merasakan stress karena efek lockdown, saya merasakan bahagia krn merasa Tuhan ada di dekat saya. Saya tidak merasakan kesepian, saya merasakan damai sukacita berumpul bersama anak dan suami.Seiring dengan pemulihan masa pandemic, kegiatan sosial sudah mulai aktif Kembali, lockdown mulai dibuka perlahan. Pada suatu hari, saya membuka Instagram saya. Terpampang berbagai status dari teman teman saya. Ada yang sedang liburan bersama keluarga, ada yang sedang ngopi dan berkumpul dengan teman teman, ada yang sedang olah raga dengan teman. Ada juga yang memasang foto aneka makanan dan minuman ataupun pemandangan indah.
Memang isinya tidak ada yang baru dan dashyat, hanya memperlihatkan status kebersamaan saja.

Setelah melihat itu semua, tiba tiba saya merasa kecil, sepi dan sendiri.
Saya mulai bertanya tanya, ada apa dengan ketenangan dan kesejahteraan jiwa ku? Kenapa status di IG bisa membuat saya merasakan hal ini? Apakah efek lockdown membuat saya jadi menjauh dari lingkungan sosial? Apakah saya sudah mulai menjadi “upnormal” dan mendekati kehidupan yang terlalu rohani?

Pikiran saya bekerja, saya harus mulai mencari teman dan berkumpul dengan mereka. Mulailah saya membuat janji temu dan kegiatan ngopi ngopi cantik dengan teman teman. Entah teman SMA, teman kuliah dan komunitas. Sejenak saya merasakan kesibukan duniawi mulai saya alami dan mengisi hari hari saya Kembali.
Namun, setiap saya pulang ke rumah setelah melakukan aktifitas “kumpul” tersebut, saya merasakan kekosongan yang sangat. Saya merasakan ada yang hilang dalam hati saya. Saya tidak suka cita. Terlebih ketika melakukan refleksi malam, saya menyesal sekali banyak pembicaraan yang tidak perlu dilakukan namun terucap begitu saja saat kumpul kumpul.  Mengapa saya tidak sukacita padahal habis ketemu teman? Kenapa ketika lockdown, saya merasakan suka cita yang memuncak dalam hidup saya? Walau saat lockdown tidak ada teman, tidak bisa ngopi cantik.

Tanpa sengaja saya membuka buku Thomas a Kempis, hal 23. Sub judul yang sangat menarik dan relevan dengan keadaan yang saya alami. *Hal menghindari percakapan yang tidak perlu*
Ijinkan saya mengutip nya :
_“Hendaklah kita sedapat mungkin mengundurkan diri dari keributan suasana di sekitar kita. Sebab banyak mempercakapkan kejadian dunia itu pengaruhnya sangat merugikan, sekalipun maksud kita baik.”_

“Bukankah kita sering kali merasa menyesal atas pembicaraan kita yang berlebih lebihan dan menyesal juga bahwa kita terlampau banyak berkumpul dengan orang banyak?”
“Namun sayang! Semua itu seringkali tidak berfaedah dan tidak berguna. Sebab hiburan lahiriah semacam itu tidak sedikit mengurangi hiburan batiniah dari Tuhan. Karena itu, baiklah kita berjaga dan berdoa agar waktu kita tidak lewat tanpa hasil apa apa. Jika kita boleh berbicara dan ada gunanya untuk berbicara, baiklah kita gunakan pembicaraan itu untuk membangun.

“Kebiasaan kita yang salah dan kelalaian kita atas kemajuan dalam kehidupan rohani itulah yang banyak menyebabkan kita tidak menjaga mulut kita lagi.”

Jadi, apakah ngopi cantik tidak boleh? Boleh saja..tapi ingat…hindari percakapan yang tidak perlu.
Salam Damai Kristus.

Attachments area