Bacaan I: Yeremia 11:18–20 Mazmur: 7:2–3, 9bc–10, 11–12
Injil: Yohanes 7:40–53
Refleksi hari ini ditulis oleh Para Dominikan Awam Indonesia : Bro Ivan Iman (komunitas Rosa De Lima Surabaya dan Christina Nico (Komunitas St. Thomas Aquinas Jakarta)
ASAS PRADUGA TAK BERSALAH
“Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya?” (Yoh 7:51)
Hukum dimana-mana menekankan prinsip atau asas praduga tak bersalah. Sebelum dibuktikan melakukan suatu kesalahan dengan suatu dalil yang sah, seseorang tidak boleh diputuskan sebagai yang bersalah
Syalom…Selamat pagi
Sering saya mendengar bahkan terjadi dalam kehidupan sehari-hari seseorang atau kelompok yang mempunyai kekuasaan, kekuatan sering dengan mudahnya menganggap bahwa merekalah yang paling benar dan orang lain yang tidak sepaham adalah kelompok yang salah. Kekuatan, kekuasaan dijadikan alat untuk menghakimi orang lain dengan mudahnya.
Dalam bacaan Injil hari ini juga dikisahkan bagaimana para ahli taurat dan kaum farisi dengan semena-mena menganggap Yesus adalah sosok yang berbahaya bagi mereka, karena Yesus berani mengungkapkan kebenaran dan kebusukan mereka. Sosok Yesus memang sangat menarik perhatian bagi para ahli taurat & kaum farisi. Yesus itu adalah sosok yang mengagumkan. Mereka sangat tertarik dengan semua perkataanNya. Sayang sekali mereka belum mengimani Yesus sehingga mereka ingin menangkap dan membunuhNya. Hanya Nikodemus yang tampil untuk membela Yesus dengan berkata “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya?” (Yoh 7:51).
Injil hari ini juga mengajarkan kepada saya supaya jangan cepat mengadili sesama dengan hanya melihat bagian luarnya saja. Orang-orang melihat Yesus langsung berniat jahat terhadap Dia. Sama seperti saya lebih cepat mengadili, berprasangka buruk daripada melihat kebaikan dan jati diri sesama sebagai manusia yang baik yang diciptakan secitra dengan Tuhan Allah sensiri. Emosi dapat mempengaruhi keputusan dan sikap saya karena pikiran saya menjadi kurang jernih. Pertimbangan saya makin buruk bila saya menaruh syak wasangka terhadap seseorang dan mengambil keputusan berdasarkannya. Mendengar dan tidak terlalu cepat melompat kepada kesimpulan akan memperkokoh keputusan saya dalam memberi penilaian yang tepat dan benar. Saya harus berpikir ulang sebelum saya mengambil keputusan atau menetapkan keputusan. Jangan pernah saya mengambil keputusan pada saat saya tidak mampu mengendalikan emosi.
Melalui Injil hari ini juga saya dikoreksi untuk melakukan sebuah pertobatan. Saya diingatkan untuk melihat dan mengenal Yesus di dalam diri sesama. Saya harus melayani sesama terutama mereka yang paling kecil karena itu adalah sama dengan melayani Yesus sendiri. Saya juga diingatkan untuk melihat hal-hal terbaik didalam diri sesama. Marilah kita semua mengikuti Yesus yang tidak pernah memperhatikan dosa-dosa kita, tetapi iman kita. Iman yang menyelamatkan!. Rahmat Allah sendiri yang memampukan kita untuk itu. Tuhan Yesus memberkati🙏 (Ivan Iman)
Tuhan Benteng Perlindunganku
“Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung ; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku.”(Mazmur 7:2)
Saya masih ingat ketika tahun 1998, tahun terjadi kerusuhan besar di Jakarta. Kebetulan hari itu, saya sebagai seorang aktivis mahasiswa sedang aktif ikut demo mahasiswa. Semangat membela keadilan begitu menggebu gebu sehingga terdorong untuk melakukan demo beramai ramai. Demo berakhir rusuh, mahasiswa di bubarkan. Saya pun pulang ke rumah diantar seorang teman dengan menggunakan motor. Selama perjalanan pulang, pemandangan yang tidak lazim saya lihat dimana mana. Jalanan sepi, banyak ban atau benda terbakar di tengah jalan, ada barisan tentara dll. Masih belum menyadari bahaya yang terjadi, kami meneruskan perjalanan. Semakin dekat dengan rumah saya, terdapat kerumunan orang di sisi kanan dan kiri jalan. Hanya motor kami, satu satu nya kendaraan yang melintas di tengah jalan besar tersebut. Pun kami melaluinya dengan terheran heran. Akhirnya tibalah saya dengan selamat di rumah.
Ternyata tanpa saya sadari, itu adalah hari yang sangat menyeramkan dalam hidup saya. Kerusuhan dengan target masyarakat etnis Tionghoa terutama wanita, sungguh benar benar terjadi dan memakan korban. Puji Tuhan, Tuhan melindungi saya hingga saya selamat tiba di rumah. Ternyata rute yang saya tempuh, mulai dari demo di kampus hingga rute pulang ke rumah, menjadi rute yang paling rawan dan memakan banyak korban. Namun Tuhan begitu menjaga saya dan teman saya sehingga kami dapat pulang dengan selamat. Kami diloloskan dari serbuan gas air mata yang dilemparkan tentara ke dalam kampus. Lalu kami seperti di “hilangkan” dari pandangan musuh musuh kami. Padahal kami berjalan di depan mata mereka, padahal kami berada dalam kerumunan massa yang sudah beringasan.
Bacaan pertama hari ini, sangat menyentuh saya. Betapa Tuhan melindungi anak anak Nya, yang terkadang seperti domba jinak (dan nakal) yang berjalan tidak kenal arah. Betapa domba domba itu sering “merepotkan” Tuhan dengan kelakuan nya yang bodoh dan lalai. Namun Tuhan tetap menjaga dan membereskan semua. Bantuan Tuhan tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu.
Mari Berdoa : Ya Bapa, terima kasih atas penjagaan Mu bagi hidup kami. Tidak bosan bosan nya Engkau melindungi, menjaga, mengarahkan dan membimbing kami setiap saat dalam hidup kami. Bapa, kami mohon, berikan kami rahmat untuk semakin mencintai Engkau dalam hidup kami, agar dalam setiap tarikan nafas kami, kami semakin merasakan cinta yang masuk dan menyertai hidup kami sekarang dan selama lama nya. Amin. (Penulis : Christina Nico)
Recent Comments