Refleksi Harian Lectio Divina Senin Pekan ketiga Prapaskah

Refleksi Harian Lectio Divina Senin Pekan ketiga Prapaskah 21 Maret 2022

Bacaan I: 2 Raja-raja 5:1–15ab Mazmur: 42:2, 3; 43:3, 4

Injil: Lukas 4:24–30                                                                                                                                            

Refleksi hari ini ditulis oleh Para Dominikan Awam Indonesia : Bro Ivan Iman (Komunitas Rosa De Lima Surabaya) dan Hendri Chandra (Komunitas Bernardo Scammacca Jakarta)

Pokoknya luar negeri

Dan kataNya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.  (Luk 4:24)

Syalom…Selamat pagi
Dalam benak & pemikiran saya, apa yg berasal dari luar negeri itu pasti baik. Itu moto hidup saya. Pokok e luarnegeri!. Sampai suatu saat ketika saya berlibur ke suatu tempat dimana disitu banyak bulenya, saya merasakan adanya diskriminasi antara saya turis lokal dg turis bule. Dari harga kamar hotel berbeda, harga makanan juga beda sampai “servisnya pun beda. Mereka lbh melayani bule2 tsb daripada saya. Saya lantas berpikir inikah yg namanya bule minded?

Sabda Tuhan Yesus hari ini mengingatkan agar saya lebih mengasihi, menghormati mereka yg dekat dengan saya daripada mereka yg jauh dari saya. Jika saya mampu mengasihi mereka yg dekat dengan saya maka kepada orang lain/asing berarti saya menghormati sepenuh hati, bukan sekedar sopan santun atau mencari muka saja, bahkan melayani. Sebaliknya ketika saya tidak dapat mengasihi mereka yg dekat dengan saya, maka sebenarnya sikap saya sebenarnya menindas atau melecehkan, meskipun diluar tampak penuh hormat. Begitu naifnya, jika di dalam kehidupan keluarga sendiri saya selalu marah2, memaki & tidak ada kasih terhadap istri & anak2, lantas saya bisa & mau mengasihi orang lain atau saya berkoar2 diluar tentang apa itu kasih?. Bulshit!.

Saya acap berharap membangun iman lewat peristiwa & orang2 yg luar biasa. Karena itu saya sering mengabaikan kejadian & orang sederhana dalam hidup saya. Padahal Tuhan sering mau berbicara kepada saya lewat mereka itu. Saya sering berharap untuk mendengar & melihat yg jauh, namun lalai untuk memperhatikan apa yg ada disekitar saya termasuk tidak peka untuk melihat hidup saya sendiri. Padahal Tuhan sudah berbuat begitu banyak dalam hidup saya.

Maka oleh karena itu marilah kita semua yg mengaku murid Kristus di masa retret Agung ini untuk lebih melihat & merefleksikan diri sendiri apakah saya lebih mengasihi kepada mereka yg dekat dengan kita, entah itu manusia, harta benda/aneka produksi dsb atau justru lebih mengasihi disana yg jauh dari saya?. Alangkah indahnya semisal saya lebih memilih memakai batik, ketimbang memakai jas & dasi dalam berbagai kesempatan formal. Membawa istri & anak dalam berbagai kesempatan acara diluar/nongki2 daripada menggandeng orang lain?. Karena orang2 atau apapun yg ada di dekat saya itulah yg hrs saya utamakan & kasihi. Rahmat Allah sendiri yg memampukan kita untuk itu. Tuhan Yesus memberkati🙏 (Ivan Iman)

 

Kerendahan hati yang menyelamatkan

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat. 25:40)

Ketika Paus Fransiskus mengajak seluruh lapisan gereja untuk terlibat dalam gerakan Sinode, hal ini bisa dilihat sebagai suatu terobosan dan inisiatif yang luar biasa yang menunjukkan kepada kerendahan hati untuk mendengarkan suara dari seluruh lapisan gereja.

Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan melalui contoh nabi Elisa yang menyembuhkan Naaman, orang Siria yang datang mencari kesembuhan dari sakit kusta kepada nabi Elisa.

Banyak orang di Isreal sakit kusta pada waktu itu  tapi mengapa justru orang asing yang datang dari jauh yang disembuhkan ?

Dari bacaan pertama kita mengetahui bahwa Naaman pergi ke Isreal karena mendengar kabar dari seorang anak Isreal yang menjadi pelayan istri Naaman.

Naaman percaya sehingga berangkatlah dia ke Israel dan akhirnya bertemu Nabi Elisa yang hanya menyuruh dia untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan supaya menjadi tahir.

Awalnya dia berharap bertemu dengan seorang nabi yang akan berdoa keras memanggil Allah dan memgerakkan tangan di atas bagian tubuhnya yang sakit tapi malah disuruh melakukan suatu hal yang sangat sederhana yaitu mandi tujuh kali di sungai Yordan.

Mulanya Naaman dengan keangkuhannya tidak percaya tapi setelah mendengar bujukan anak buahnya akhirnya dia menuruti perintah nabi Elisa dan akhirnya menjadi tahir.

Kadang kita sibuk mencari Tuhan melalui ziarah ke tempat suci yang masyhur, mendengarkan khotbah pastor atau pengajar kitab suci yang terkenal. Tentu saja itu sah-sah saja dan tidak ada yang salah. Tapi mungkin kita juga perlu membuka mata dan hati mendengarkan dan belajar dari saudara kita yang lemah, miskin, tersingkirkan dan difabel.Sering kali Tuhan ingin menyapa kita melalui mereka. Siapkah kita menanggapi sapaan Tuhan ? (Hendri Chandra)