Renungan Hari Minggu Pertama Prapaskah

Renungan Minggu Prapaskah Pertama

Bacaan I: Ulangan 26:4–10           Bacaan II: Roma 10:8–13

Mazmur: 91:1–2, 10–11, 12–13, 14–15 Injil: Lukas 4:1–13

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold , diterjemahkan oleh Bro Theo Atmadi OP (Dominikan Awam Indonesia)

Santo Lukas menawarkan kepada kita model perjalanan Prapaskah, ketika dia memberi tahu bahwa Yesus dituntun ke dalam gurun selama empat puluh hari dengan berdoa dan berpuasa. Waktu inilah Yesus melakukan tatap muka yang pertama, pertarungan dengan iblis. Iblis yang sama yang menghasut Herodes menghancurkan Anak Kristus di Betlehem sekarang hadir di hadapan Yang Kudus di bawah kedok kelembutan dan kasih sayang.

Kita harus mengambil perhatian akan bentuk tiga godaan, karena di sini di padang gersang Gurun Yudea, Yesus memulai Karya hidupnya dengan penyerahan total kepada Bapa.

Iblis menggoda Yesus dengan taktik yang sama seperti di Taman Eden, dan taktik yang sama juga terus digunakan iblis kepada kita  hingga hari ini.

Itulah kebohongan kuno yang dibisikkan ke telinga kita — oleh dosa, kita akan menjadi seperti Tuhan. Kita tahu ini terjadi di Taman Eden (lihat Kej 3:5), dan kita menyaksikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali kita berbuat dosa; kita menempatkan diri kita seperti Tuhan, sedemikian rupa sehingga kita menjadi penentu akhir akan kebaikan dan kejahatan. Padahal Kitab Suci menjanjikan kita akan menjadi bagian dari keilahian Tritunggal, iblis terus-menerus menggoda kita untuk menjadi seperti Tuhan, “tanpa Tuhan, sebelum Tuhan, dan mengingkari Tuhan” (CCC, 398).

Demikian juga di padang gurun, Yesus dihadapkan pada godaan – Lihatlah seberapa banyak kebaikan yang bisa kau lakukan, lihat semua masalah yang bisa kau pecahkan, jika saja engkau mau melakukan satu tindakan kecil ketidaktaatan ini. Yesus akan dapat mengakhiri kelaparan dunia, memerintah semua kerajaan di bumi, serta membawa jiwa-jiwa yang tak terhitung jumlahnya kembali percaya kepada-Nya, dan bisa mencapai semua ini tanpa harus menderita Sengsara yang menanti-Nya. Iblis hanya minta satu hal dari-Nya: “Semua ini akan menjadi milikmu, jika kamu menyembah aku.” Dengan kata lain, Yesus dapat mencapai semua kebaikan di dunia jika saja Dia mau berpaling dari Tuhan.

Namun terlepas dari segala upayanya, iblis gagal. Yesus tetap taat kepada Bapa, dengan rendah hati percaya bahwa Kehendak Bapa adalah cara yang lebih baik, dan dengan melakukan ini, Dia membawa keselamatan bagi dunia.

Bagaimana dalam hidup, saya bisa menumbuhkan pengabdian lebih besar kepada Kitab Suci, sehingga semakin menghargai, siapakah Tuhan dan apa yang telah Dia lakukan bagiku?