Renungan Harian Prapaskah

Renungan Harian Hari Ke-11 Senin Pekan Kedua Prapaskah

Bacaan I: Daniel 9:4b–10    Mazmur: 79:8, 9, 11 dan 13

Injil: Lukas 6:36–38

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold, diterjemahkan oleh Bro Theo Atmadi OP (Dominikan Awam Indonesia)

Mungkin Anda merasa sedikit lelah dengan semua bacaan Prapaskah yang suram pada saat ini. Misalnya saja Mazmur tanggapan hari ini: Tuhan, janganlah memperhitungkan kami sesuai dengan dosa-dosa kami. Hal-hal yang suram, bukan? Yah, semacam itulah ….

Anda lihat, kebenaran dari masalah ini adalah bahwa dosa, kematian, matiraga, pertobatan — inilah yang dimaksudkan dengan empat puluh hari Prapaskah! Namun ini seharusnya tidak menjadi penyebab kesedihan melainkan salah satu harapan. Mengapa?

Karena empat puluh hari Prapaskah ini tidak lain adalah persiapan kita untuk menyambut lima puluh hari masa Paskah.

Dalam kehidupan Kristiani, begitu sering kita bisa jatuh ke dalam satu ekstrem ke ekstrim yang lain. Mungkin kita memiliki temperamen yang lebih melankolis, sehingga kita cenderung terlalu menekankan aspek kesulitan dan kegelapan dalam hidup Kristiani. Dan dalam kasus yang lebih parah, ini dapat menyebabkan bentuk kecermatan yang amat merusak.

Di sisi lain, mungkin ada saat-saat ketika kita merasa bersalah atas hidup kristiani kita yang terlalu longgar, bertindak seolah-olah kita telah mencapai surga, walau masih di bumi, dan dengan mudah melupakan aspek-aspek peringatan keras dari khotbah Yesus.

Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa Kekristenan sejati terdiri dari keseimbangan akan semua hal ini, dan itulah yang membuatnya begitu indah. St. John Henry Newman dalam ‘An Essay on the Development of Christian Doctrine’ menekankan hal ini, ketika dia memperingatkan bahwa, “[Satu] aspekpun dari Wahyu tidak boleh ditinggalkan, mengecualikannya, atau mengaburkan yang lain; dan Kekristenan bersifat dogmatis, devosional, sekaligus praktis; itu esoteris dan eksoteris; itu memanjakan dan ketat; itu terang dan gelap; itu adalah cinta, dan itu adalah ketakutan.”

Jadi ya, Yesus mengasihi kita, memperhatikan kita, mengampuni kita, dan menyambut kita kembali. Tapi juga ya, Dia memperingatkan kita, menegur kita, menantang kita, dan bahkan menghakimi kita. Kita tidak boleh terlalu menekankan satu aspekpun dari pesan Yesus dengan mengorbankan yang lain. Sebaliknya, kita hanya harus berusaha untuk tetap setia kepada-Nya, percaya bahwa Dia akan memberi kita rahmat agar bisa melakukannya: “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Mat. 7:2).

Apakah saya benar-benar menerima Yesus apa adanya, bahkan ketika itu membuat saya tidak nyaman? Atau apakah saya bersalah pada saat “menempatkan Dia di dalam kotak” dan menafsirkan prasangka saya sendiri tentang apa yang ingin Dia katakan kepada saya?