Renungan Pekan Ketiga Prapaskah

Renungan harian Senin Prapaskah Pekan ketiga Bacaan I: 2 Raja-raja 5:1–15ab Mazmur: 42:2, 3; 43:3, 4 Injil: Lukas 4:24–30

Bacaan I: 2 Raja-raja 5:1–15ab Mazmur: 42:2, 3; 43:3, 4

Injil: Lukas 4:24–30

Renungan dari buku : Journey Through Lent, Reflections on the Daily Mass Readings by Clement Harrold.

Kisah Naaman dalam Kitab Raja-Raja yang kedua mengajarkan kita banyak hal tentang nilai ekonomi Sakramental. Seorang pria dengan kekuasaan dan status yang besar, Naaman berangkat dengan kekayaan yang sangat besar, berharap bahwa dengan itu dia mungkin bisa membayar apapun agar disembuhkan dari kusta.

Dengan melakukan itu, ia menunjukkan iman yang belum mengandalkan pada kekuatan penyembuhan Tuhan, tetapi jelas bahwa imannya belum keluar dari kepentingan dirinya sendiri. Ia masih memandang interaksinya dengan yang ilahi sebatas “hubungan transaksional”—apa yang Fr. Thomas Acklin dan Pdt. Boniface Hicks menjelaskan dalam buku Doa Pribadi mereka: Panduan untuk menerima Kasih Bapa. Ini adalah jenis pemikiran yang menegaskan, “Saya memberi Anda sejumlah barang X, oleh karena itu Anda berutang sejumlah barang Y kepada saya sebagai balasannya.” Ini adalah bahasa kontrak, bukan perjanjian, dan tidak mengherankan jika Naaman menjadi marah ketika nabi Elisa memintanya untuk melakukan sesuatu yang dirasa rendah dan tampaknya sepele.

Kita bisa jatuh ke dalam pemikiran pragmatis dan duniawi seperti dalam cara kita memaknai sakramen. Apakah saya benar-benar perlu mengakui dosa saya kepada seorang imam tua yang eksentrik? Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa hosti menjadi inti dari Kristus yang bangkit?

Seperti orang-orang Yahudi dalam Injil hari ini, kita mempertaruhkan diri kita menjadi korban pepatah kuno bahwa keakraban melahirkan penghinaan. Marilah kita berdoa memohon rahmat untuk menerima  kerendah hatian yang akhirnya ditemukan oleh Naaman. Dengan demikian, kita menjadikan kata-kata pemazmur menjadi milik kita sendiri: “Seperti rusa merindukan aliran sungai, demikianlah jiwaku merindukan-Mu, ya Allah” (Mzm 42:1).

Apakah saya menunjukkan hubungan transaksional dengan Tuhan?

Apakah saya berdoa dan berpuasa dan bersedekah dengan harapan bahwa saya mendapatkan dan layak mendapatkan lebih banyak berkah?

Bagaimana saya bisa mulai tumbuh melampaui dari sekedar hubungan transaksional dan  menjalin hubungan dengan Tuhan berdasarkan cinta tanpa pamrih?