Renungan Harian HARI KE-2 Pra Paskah : Kamis setelah Rabu Abu

Renungan Pra paskah Kamis sesudah Rabu Abu

Bacaan I: Ulangan 30:15–20        Mazmur: 1:1–2, 3, 4 dan 6

Injil: Lukas 9:22–25

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold, diterjemahkan oleh Bro Theo Atmadi OP (Dominikan Awam Indonesia)

Ada hubungan langsung antara bacaan pertama hari ini dan Injil. Dalam bagian dari kitab Ulangan itu, Musa mengingatkan orang Israel bahwa dosa memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Setiap kali kita melakukan dosa, dan terutama dosa berat, kita sendiri akan menjadi kurang berarti di mata Tuhan, dan kita membiarkan kematian spiritual yang seharusnya kita pupuk untuk mendapatkan pijakan, tidak hanya di kehidupan kita sendiri, tetapi bahkan dalam kehidupan generasi mendatang kita.

Taruhan penebusannya tidak bisa lebih tinggi — kebenaran tersebut menjadi jelas dalam Injil, ketika Yesus mengungkapkan bahwa justru karena dosa kitalah, maka Dia harus sangat menderita dan dibunuh demi kita. Begitu banyak berita buruknya . . .  namun, apakah Kabar Baiknya?

Kabar Baik-nya adalah dalam peristiwa Jumat Agung, yaitu tujuan untuk menghancurkan keduniawian, yang juga menjadi tujuan kita dalam menjalani masa Prapaskah ini. Salib adalah jawaban atas dosa-dosa manusia. Yesus mati sehingga kita tidak perlu menjalani akibat-akibat dosa kita; Kematian fisik-Nya menghindarkan kematian rohani kita.

Tetapi perang terhadap dosa belumlah berakhir, bahkan bila Kristus adalah yang terakhir, yaitu ketika dengan kebangkitan-Nya, kemenangan terjamin. Efek dari dosa adalah kematian kehidupan rohani, namun kehendak bebas kita tetap ada. Tidak seperti dosa, yang membuat kita mengecilkan dan memalingkan diri dari hadapan Tuhan, namun di dalam dan melalui salib penderitaan, kita akan dapat benar-benar menemukan jati-diri kita sendiri, serta menemukan juga kepenuhan hidup kita. Jadi apabila kita ingin mengikuti Dia, kita akan  memilih untuk mengambil dan memikul salib kita setiap hari.

 

Bagaimanakah saya bisa mengembangkan rasa penyesalan yang lebih tepat agar menjadi semakin dekat kepada Tuhan?

Bagaimana saya dapat menghindari dosa dan kerusakan yang ditimbulkannya dalam kehidupan saya?

Bagaimanakah saya juga bisa menghindari ketergantungan yang berlebihan, menyadari bahwa saya tidak bisa menaklukkan dosa dan kesalahanku sendiri, dan alih-alih mempercayakan semuanya serta bergantung kepada kemurahan hati Yesus Kristus sang Penebus?