Renungan HarianSelasa Pekan keempat Prapaskah

Renungan Harian Hari Ke-24 Selasa Pekan Keempat Prapaskah 29 Maret 2022

Bacaan I: Yehezkiel 47:1–9, 12

Mazmur: 46:2–3, 5–6, 8–9

Injil: Yohanes 5:1–16

Maukah engkau sembuh? – Pertanyaan yang diajukan Yesus kepada orang lumpuh itu adalah pertanyaan yang mengharukan. Segera pertahanan dirinya menjadi naik, dan ia mulai melayangkan alasan: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang” (Yoh. 5:7).

Mungkin ketika Tuhan mengajukan pertanyaan serupa kepada kita, kitapun juga merasa defensif. Mungkin ada kelekatan atau keburukan yang mendalam yang telah menjangkiti kita selama bertahun-tahun ini. “Maukah engkau sembuh?” Dia bertanya kepada kita. Tidak diragukan lagi kita pasti punya alasan: Ini terlalu sulit; Saya tidak punya siapa-siapa untuk membantu saya; Saya sudah mencoba, dan mencoba, dan mencoba, tetapi sepertinya saya tidak bisa lepas dari hal itu.

Maksud pertanyaan Yesus bukanlah untuk mengabaikan alasan kita. Faktanya, sama seperti orang lumpuh itu, banyak alasan kita mungkin sah-sah saja. Sebenarnya, inti pertanyaan Yesus adalah untuk menantang kita, apakah kita serius dalam mengatasi dosa kita sebagaimana yang Yesus inginkan. Dia melakukan ini karena proses mengatasi dosa dalam hidup kita ada dua, dan terutama terhadap dosa yang mendalam.

Pertama, itu akan menyakitkan. Itu membutuhkan penyangkalan kedagingan kita, menghilangkan kesombongan kita, dan mengatur kembali keinginan kita. Kita harus rela, seperti yang dikatakan Santo Paulus, untuk mati bagi diri kita sendiri, dan kita tahu bahwa kematian tidak pernah akan menyenangkan.

Kedua, butuh penerimaan total bahwa kita tidak dapat melakukan ini sendiri, dan bahwa hanya dalam kasih karunia yang Yesus berikan kepada kita, akan memungkinkan kita melepaskan apa yang melumpuhkan kita dan menanggung rasa sakit untuk bergerak maju.

Seperti halnya Yehezkiel dalam bacaan pertama, kita perlu sampai pada titik di mana kita menyadari bahwa dalam menyeberangi sungai anugerah ilahi, mengarungi bukanlah suatu pilihan! Itu adalah sungai yang hanya bisa diseberangi dengan berenang, jadi satu-satunya sumber daya kita adalah menyelam ke dalamnya, percaya kepada arus penyembuhan dari Dia yang sangat ingin menyembuhkan hati kita yang terpecah-belah, seperti halnya Dia menyembuhkan anggota tubuh yang lumpuh.

Apakah salah satu dosa yang telah saya perjuangkan selama ini, tanpa banyak keberhasilan? Maukah aku sembuh?

Renungan dari buku Journey Through Lent, Reflections on theDaily Mass Readings by Clement Harrold