Bacaan I: Keluaran 32:7–14 Mazmur: 106:19–20, 21–22, 23

Injil: Yohanes 5:31–47

Kelompok orang Yahudi dalam Injil hari ini merasa bersalah karena menggunakan Musa sebagai alasan menolak Yesus. Mereka bersembunyi di balik ketentuan Hukum Lama karena mereka tidak mampu atau tidak mau menerima Yesus sebagai Musa yang baru dan lebih besar. Menanggapi hal ini, Yesus mengakui keterbatasan kesaksian diri, dan memilih untuk menyebut tiga saksi berbeda untuk membuktikan kebenaran ucapan-Nya.

Pertama, dia menyebut Yohanes Pembaptis. Dengan melakukan ini, Dia dengan keras mengkritik orang-orang Yahudi yang cukup senang mendengarkan Yohanes dan “bersukacita dalam terangnya” untuk sementara waktu, namun mereka gagal menanggapi serius pesan Yohanes tentang kedatangan Kristus.

Kedua, ia menyebut Bapa dan karya-karya-Nya, termasuk berbagai mukjizat yang telah dilakukan Yesus. Di sini Yesus memberikan peringatan yang mengerikan: “Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat; . . . sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya” (Yohanes 5:37-38). Bayangkan seseorang berdiri di mimbar hari ini dan memberi tahu semua uskup Gereja bahwa mereka belum pernah mendengar atau melihat Tuhan!

Namun Yesus dapat menyampaikan kritik ini tanpa melebih-lebihkan, karena dia tahu bahwa orang-orang Yahudi yang dia ajak bicara bukan lagi penyembah Tuhan yang benar, tetapi mereka hanya menyembah citra yang salah tentang Tuhan mereka. Mereka telah menempatkan Tuhan dalam sebuah kotak kecil hingga mereka tidak mengenali-Nya bahkan ketika Dia ada di depan mereka.

Akhirnya, Yesus menyebut Kitab Suci. Sama seperti Musa dalam bacaan pertama menjadi perantara atas nama umat pilihan Allah, demikian juga sekarang Yesus akan menyerahkan nyawa-Nya atas nama semua orang. Menariknya, akar kata Yunani untuk “saksi” dan “kesaksian” adalah martus, di mana kita mendapatkan kata bahasa Inggrisnya: “martir.”

Ini berfungsi sebagai pengingat bahwa selain tiga hal kesaksian yang Yesus sebut dalam Injil hari ini, kita juga dipanggil untuk bersaksi tentang kebenaran Sabda-Nya melalui cara hidup kita.

Apakah saya sudah menjadi seorang saksi yang baik bagi kebenaran Kristus yang menyelamatkan? Apakah salah satu bidang kehidupan saya di mana saya masih bersaksi dengan buruk, dan bagaimanakah hal itu dapat saya perbaiki?

Renungan dari buku Journey Through Lent, Reflections on theDaily Mass Readings by Clement Harrold