Renungan Harian HARI KE-3 Pra Paskah: Jumat setelah Rabu Abu

Renungan Pra Paskah Jumat sesudah Rabu Abu

Bacaan I: Yesaya 58:1–9a              Mazmur: 51:3–4, 5–6ab, 18–19

Injil: Matius 9:14–15

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold, diterjemahkan oleh Bro Theo Atmadi OP (Dominikan Awam Indonesia)

Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa dalam mengejar kesempurnaan Kristiani, amatlah berbahaya bila kita mengabaikan masa pantang dan puasa. Memang, kita perlu mengingat bahwa kita pernah berpantang dan berpuasa sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan. – Orang bisa berpikir, di inilah pendekatan Manichean atau Gnostik yang memandang tubuh sebagai sumber kejahatan dan mereka memerintahkan pantang dan puasa sebagai metode untuk menundukkan tubuh / keduniawian manusia yang tercemar. Jelas, ini bukan visi Kristiani!

Namun, puasa tetap menjadi hal yang sangat penting, suatu cara dengan mengorbankan kecenderungan keduniawian serta mengendalikan tubuh agar melakukan hanya hal-hal yang sah demi mendapatkan kebaikan yang lebih tinggi. Pantang puasa adalah pengakuan bahwa karena Kejatuhan, keinginan kita telah menjadi tidak teratur, dan seringkali nafsu menjadikan kita lebih rendah (keinginan untuk makan, seks, tidur, dan sebagainya) tidak lagi tunduk kepada perintah Tuhan. Karena itu, pantang dan puasa bersama-sama dengan doa, adalah senjata spiritual yang ampuh dalam memerangi kecenderungan berdosa kita, juga dapat menata ulang suasana hati kita menuju Tuhan.

Melancarkan peperangan rohani dengan doa saja, tidak hadir dalam Pantang dan Puasa, bisa di ibaratkan seperti mencoba berlatih maraton tanpa repot-repot memperhatikan makanan yang baik dan bergizi. Memang, dari perspektif alkitab, doa tanpa pengorbanan akan terhambat, dan dalam mengatasi kejahatan yang lebih dalam, itu berisiko akan melemahkan.

Ingatlah kata-kata Kristus: “Dan dia berkata kepada mereka, ‘Jenis ini tidak dapat diusir dengan apa pun kecuali doa dan puasa’” (Markus 9:29). Itulah pesan Injil hari ini yang mengingatkan kita bahwa pada hari-hari ini, ketika mempelai laki-laki telah kembali kepada Bapa, pantang dan puasa adalah milik kita, menjadi kewajiban kita sebagai umat Gereja Katolik.

 

Jumat ini marilah kita mengulangi komitmen untuk melaksanakan tradisi kuno yang masih amat bermanfaat ini, mengingat bahwa pengorbanan terakhir yang Tuhan inginkan dari kita adalah penyesalan, semangat dan kerendahan hati.

Semua doa, pantang puasa, serta pewartaan kita hendaknya mengalir dari sini.

 

Langkah konkret apakah yang dapat saya ambil untuk menjadikan pantang dan puasa menjadi bagian rutin dari kehidupan Kristiani saya?