Renungan Harian Hari KE-4 Pra Paskah : Sabtu setelah Rabu Abu

Renungan Pra Paskah hari ke 4 Sabtu setelah Rabu Abu

Bacaan I: Yesaya 58:9b–14           Mazmur: 86:1–2, 3–4, 5–6

Injil: Lukas 5:27–32

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold , diterjemahkan oleh Bro Theo Atmadi OP (Dominikan Awam Indonesia)

Sangat mudah untuk mengetahui / mengkritik sifat buruk orang lain. Namun memiliki sifat kritis yang sama terhadap diri kita sendiri, jelas kurang menarik! Seperti dari Bacaan Injil hari ini, ada salah satu pelajaran yang bisa kita ambil. Jelas, Yesus berbicara agak ironis ketika Dia mengatakan bahwa, “Orang yang sehat tidak perlu ke dokter. Yang perlu ke dokter adalah orang sakit.” (Lukas 5:31). – Yesus mengatakan kata-kata ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah karena — untuk golongan orang-orang yang memandang diri mereka sebagai orang yang sempurna, dan sehat secara spiritual — sambil menunjukkan kebutuhan mereka yang mendesak akan Tabib Ilahi.

Dengan cara yang halus namun tajam, Yesus menuduh mereka bersalah jauh lebih besar dan punya dosa yang lebih berat daripada pemungut cukai dan “orang berdosa” yang dengan cepat dapat mereka kutuk.

Yang menakutkan dari episode ini adalah bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tampaknya tidak menyadari kesalahan mereka, bukan karena mereka naif dan polos tapi karena, seiring waktu, mereka telah membuat kebiasaan menumpulkan hati nurani mereka dan bertumpu kepada harga diri mereka. Mudah bagi kita untuk melihat hal ini, karena sebagai pengamat pihak ketiga. Tapi dapatkah kita menjawab pertanyaan: Bagaimana kita tahu bahwa kita tidak bersalah? Apakah kitapun punya kebutaan spiritual yang sama yang ditunjukkan oleh para ahli Taurat dan Farisi? Ini layak untuk direnungkan. Bukan sebagai alasan untuk ketelitian atau keputusasaan, melainkan sebagai latihan dalam pengetahuan diri. Melalui latihan ini kita bisa masuk pada pemahaman yang lebih dalam tentang kesalahan kita sendiri, serta kegagalan dan dengan demikian kepada keyakinan yang lebih dalam dari totalitas ketergantungan kita kepada kasih karunia penyembuhan Yesus Kristus. Jika kita mau melakukan hal ini, maka, seperti yang diingatkan oleh nabi Yesaya kepada kita hari ini, “TUHAN akan menuntun  engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah  yang kering, dan akan membaharui kekuatan-mu;  engkau akan seperti taman  yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan” – (Yesaya 58:11).

Apakah keburukan dalam hidupku yang paling tidak kusadari? Darimanakah itu? Bagaimanakah aku bisa mulai mengatasi sifat-sifat buruk itu?

Mungkinkah hal itu paling berakar pada temperamenku dan karenanya, aku paling sulit untuk mengakuinya?