Renungan Harian ke 10 Hari Sabtu Pekan I Prapaskah Matius 5:43–48

Renungan Harian ke 10 Hari Sabtu Pekan I Prapaskah Injil: Matius 5:43–48

Bacaan I: Ulangan 26:16–19         Mazmur: 119:1–2, 4-5, 7-8

Injil: Matius 5:43–48

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold, diterjemahkan oleh Sis Agatha Titik R (Dominikan Awam Indonesia)

Tidak ada agama atau pandangan dunia yang lebih menghargai manusia daripada kekristenan. Ini dia realisasi yang memungkinkan para pemikir era Renaisans untuk memberitakan humanisme Kristiani yang mengakui keangungan panggilan manusia.

Kita melihat logika yang sama ditunjukkan dalam Injil hari ini : Yesus memanggil kita untuk mencapai kesempurnaan! Kata Yunani untuk sempurna dalam konteks ini adalah teleios, yang berhubungan dengan kata Inggris teleologis: berhubungan dengan maksud atau tujuan. Dengan kata lain, dalam memanggil kita agar menjadi sempurna, Yesus mengundang dan menantang kita agar menjadi sepenuh-penuhnya siapa kita seharusnya. Betapa menakjubkan iman yang Dia tempatkan dalam potensi kita, sebuah iman yang terus ditiru oleh Gereja Katolik hingga hari ini. Sebagai pribadi manusia, kita diciptakan lebih dari sekadar kesenangan duniawi. Kita diciptakan untuk kemuliaan, dan seperti yang diingatkan dalam mazmur hari ini, dengan mengikuti perintah Tuhan kita akan mencapai kebahagiaan abadi yang kita sebut sebagai panggilan.

Tentu saja, ini bukan untuk mengadvokasi Pelagianisme — jenis pemikiran di mana kita mengira kita bisa diselamatkan melalui usaha kita sendiri. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi sempurna, tetapi kita tidak dapat mencapainya sendiri. Bahkan, selain kasih karunia Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa (lihat Yohanes 15:5).

Bagaimana kita menyeimbangkan semua hal ini? dalam sebuah pidato yang diberikan di Prancis satu dekade sebelum kematiannya, St. Yohanes Paulus II menggambarkan kehidupan Kristiani dengan indah: “Tepat ketika malam menyelimuti kita, kita harus berpikir tentang datangnya fajar; kita harus percaya bahwa setiap pagi, Gereja dihidupkan kembali melalui orang-orang kudusnya. Bukan karena mereka menaklukkan dunia, tetapi karena mereka membiarkan Kristus menaklukkan mereka.”

Mari kita ingat kata-kata itu hari ini dan setiap hari.

Apakah kadang-kadang saya salah karena berpuas diri dengan cara saya memperdalam kehidupan rohani?

Apakah saya pernah menerima ketidakbenaran yang mengatakan, “Kamu sempurna apa adanya”?

Bagaimanakah saya dapat merangkul kasih Bapa bagi saya, sambil tetap mengakui kebutuhan saya yang berkelanjutan demi untuk pertumbuhan rohani?