Renungan Harian Hari Ke-18 Selasa Pekan Ketiga Prapaskah 22 Maret 2022Renungan Harian Hari Ke-18 Selasa Pekan Ketiga Prapaskah

Bacaan I: Daniel 3:25, 34–43Mazmur: 25:4–5ab, 6 dan 7bc, 8–9

Injil: Matius 18:21–35

Renungan dari buku Journey Through Lent, Reflections on the Daily Mass Readings by Clement Harrold,

Sosok Azariah yang penuh iman dalam bacaan pertama hari ini adalah contoh dari apa artinya percaya terus menerus kepada Tuhan bahkan ketika semuanya tidak beres. Seseorang yang hampir bisa mendengar derita yang menyedihkan dalam suaranya: “Ya Tuhan, jumlah kami telah menjadi lebih kecil dari jumlah sekalian bangsa, dan sekarang kamipun dianggap rendah di seluruh bumi oleh karena segala dosa kami. Dewasa inipun tidak ada pemuka, nabi atau penguasa, tiada korban bakaran atau korban sembelihan, korban sajian atau ukupan; tidak pula ada tempat untuk mempersembahkan buah bungaran kepadaMu dan mendapat belas kasihan.” (Dan 3:38).

Konteksnya, Azarya berbicara semua ini dari kedalaman tungku, dimana dia sedang dihukum oleh Raja Nebukadnezar yang jahat. Ini adalah raja yang sama yang beberapa tahun sebelumnya memimpin pasukannya dalam menaklukkan Yerusalem dan menghancurkan Bait Suci Salomo. Karenanya Azariah hidup pada masa ketika tanah airnya telah dihancurkan, orang-orangnya telah diasingkan, dan tempat pertemuan Tuhan dan manusia (yaitu, bait suci) telah dihancurkan. Namun, perhatikan bagaimana doanya dimulai dan diakhiri dengan kepercayaan.

Baik bacaan pertama maupun Injil mengingatkan kita hari ini bahwa begitu mudah buat kita untuk memercayai Tuhan ketika segala sesuatunya berjalan baik dalam hidup kita. Namun, iman yang benar adalah yang bertahan bahkan disaat pencobaan muncul. Kita harus waspada dalam memastikan bahwa kita tidak menjadi begitu nyaman dalam kekristenan kita dan cara hidup modern kita sehingga kita mulai melupakan semua cara di mana kita telah menerima belas kasihan Tuhan. Seperti Azariah, kita harus terus berpegang teguh pada Tuhan, menyadari bahwa tanpa Dia kita bukan apa-apa.

Apakah saya terus mengandalkan Tuhan dan tetap berpaling kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatunya berjalan baik?

Langkah-langkah apa yang dapat saya ambil untuk menunjukkan lebih banyak rasa syukur dalam hubungan saya dengan Tuhan dan dengan orang-orang di sekitar saya?