Renungan Harian ke 5 Senin Pekan I Prapaskah

Renungan Senin Pekan I Prapaskah

Bacaan I: Imamat 19:1–2, 11–18                Mazmur: 19:8, 9, 10, 15

Injil: Matius 25:31–46

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold, diterjemahkan oleh Sis Agatha Titik R (Dominikan Awam Indonesia)

Bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya kasih dalam kehidupan Kristiani.  Martin Luther amat salah, Ketika dia menyatakan bahwa keselamatan kita terletak pada “iman saja,” seolah-olah pengakuan intelektual belaka terhadap kebenaran Kekristenan sudah cukup. Sebaliknya, seperti yang diingatkan dalam teks dari Matius 25, pada hari penghakiman kita akan dengan tegas dimintai pertanggungjawaban atas sejauh mana kita gagal untuk secara aktif menghidupi iman kita melalui perbuatan baik dalam hidup ini.

Seperti dikatakan dalam surat St. Yakobus kepada kita, “Ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita adalah: mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak 1:27). Iman membutuhkan tindakan: pertama dan terutama dalam kasih kepada Allah tetapi juga dan pada dasarnya dalam kasih kepada sesama.

Sudah ada di dalam teks kitab Imamat, kita melihat  ajaran yang tertulis dalam Hukum Musa: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (lihat Im 19:17-18).

Ada kemungkinan, terkadang kita yang mencari dari ungkapan kuno, berisiko kehilangan pandangan kebenaran iman Katolik dari kata-kata ini. Adakah saat-saat dimana ketika kita mempertaruhkan keindahan iman dengan mengurangi ungkapan kata-kata dengan rumusan yang kering?

Apakah kita berhati-hati untuk memastikan studi teologi kita tidak menjadi menara gading yang melindungi kita dari pekerjaan yang benar-benar sulit untuk mengasihi sesama dan melayani orang miskin?

Menariknya, gambaran yang digunakan Yesus dalam Injil adalah gambaran seorang raja. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk melayani Kristus Sang Raja, dan sejauh kita mengabaikan keinginan dan kebutuhan rakyat Raja, kita menghina Raja itu sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengingat bahwa kerajaan surga adalah kerajaan yang ditentukan oleh cinta. Marilah kita berjuang untuk membangun kerajaan Kristus di bumi ini.

Pada akhir masa Prapaskah ini, bagaimana saya bisa secara nyata menumbuhkan cinta akan sesama?

Langkah-langkah apa yang saya ambil sekarang untuk membangun lebih banyak kebiasaan amal Kristiani yang otentik dalam hidup saya?