Renungan Harian ke 6 Hari Selasa Pekan I Prapaskah

Renungan HarinSelasa Pekan I Prapaskah

Bacaan I: Yesaya 55:10-11            Mazmur: 34:4–5, 6–7, 16–17, 18–19

Injil: Matius 6:7–15

Renungan dari buku Journey Through Lent by Clement Harrold, diterjemahkan oleh Sis Agatha Titik R (Dominikan Awam Indonesia)

Doa adalah sebuah hubungan. Itulah Fakta yang terdalam, paling intim, dan paling penting dari semua hubungan. Aristoteles keliru, ketika dia menyatakan tidak mungkin ada persahabatan antara Tuhan dan manusia, karena Tuhan-Manusia sendiri mengatakan sebaliknya: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, . . . tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yohanes 15:15).

Doa, atau hubungan dengan yang ilahi, adalah penting bagi alam kita. Tanpa doa, hidup kita  akan kekurangan dimensi vertikal yang memberi kita arah dan makna. Santo Ephrem orang Syria tercatat berkata, “Burung terbang, ikan berenang dan manusia berdoa.”

Justru karena doa adalah bagian yang tak terpisahkan dari siapa kita dan karena kepentingan relasional, maka bagaimanapun juga kita harus menghindari doa ini menjadi semacam ocehan yang tak berarti, terlebih apabila melawan peringatan Tuhan kita di dalam Injil. Sebaliknya, biarlah doa mencerminkan Firman Tuhan yang dijelaskan dalam bacaan pertama. Biarlah doa hidup dan aktif, berbagi hati yang tulus dengan Dia yang memberi benih kepada yang menabur dan roti kepada yang makan. Biarlah doa menjadi ungkapan kepercayaan yang sepenuh hati kepada Bapa Kita, Dia yang sudah mengetahui kebutuhan kita lebih baik dari kita.

Bagaimana saya bisa menyalakan kembali semangat cinta dalam doa saya bahkan di hari-hari yang terasa rutin dan membosankan?