Bacaan I: Yesaya 50:4–9a Mazmur: 69:8–10, 21–22, 31, 33–34
Injil: Matius 26:14–25
Pernahkah Anda berhenti dan heran mengapa Yudas melakukan apa yang dia lakukan? Mungkin dia begitu dipenuhi dengan keserakahan sehingga dia memilih untuk mengkhianati Yesus, semata-mata demi tiga puluh keping perak. Kita tahu dari bagian lain Injil bahwa Yudas memiliki hubungan yang tidak sehat dengan uang. Tetapi meskipun tiga puluh keping perak adalah jumlah yang besar, itu bukan jumlah yang bisa mengubah hidupnya. Mungkin jumlah paling banyak sekitar sepertiga dari gaji setahun.
Tak seorangpun bisa mengurangi motifnya semata-mata hanya dari pengaruh iblis karena Kitab Suci menunjukkan bahwa hanya setelah dia telah mengkhianati Yesus di dalam hatinya, iblis memasukinya. Orang bertanya-tanya, kemudian, apakah ada penjelasan yang lebih dalam mengapa Yudas akhirnya memilih untuk melakukan kejahatan terbesar yang pernah dilakukan manusia.
Satu penjelasan mengatakan bahwa alasan sebenarnya dari pengkhianatan Yudas adalah karena dia telah kehilangan kesabaran dengan Yesus dan dia percaya bahwa waktunya telah tiba untuk bertindak. Setelah menyaksikan kemenangan masuk ke Yerusalem, Yudas benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Mesias, tetapi ia frustrasi karena tidak bertindak. Dia tidak bisa mengerti mengapa Yesus akhirnya tampak tidak begitu berkehendak untuk bergerak dan menggulingkan Roma.
Menurut teori ini, meskipun hati Yudas telah dirusak oleh kejahatan, tiga puluh koin perak bukanlah motif utamanya untuk pengkhianatan. Sebaliknya, motif utamanya adalah keyakinannya bahwa jika tidak ada orang lain yang akan mengambil tindakan, maka dialah yang harus melakukannya. Jika dia hanya menyerahkan Yesus kepada pihak berwenang, maka pada akhirnya Yesus akan dipaksa untuk mengungkapkan kuasa-Nya yang sebenarnya dan untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya! Ini benar, tentu saja, tetapi tidak seperti yang dibayangkan Yudas.
Pada akhirnya kita tidak tahu persis apa yang membuat Yudas mengambil keputusannya, tetapi apa pun masalahnya, kita harus melihat kisah tragisnya sebagai pengingat bagi kita bahwa pemuridan sejati membutuhkan kesadaran bahwa jalan Allah tidak selalu menjadi jalan kita.
Marilah kita berdoa memohon rahmat untuk menyesuaikan diri kita sepenuhnya dengan kehendak Tuhan, tidak peduli seberapa menantangnya itu.
Apakah saya percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan untuk hidup saya, atau apakah saya masih cenderung untuk memprioritaskan nilai, rencana, dan keinginan saya sendiri di atas Tuhan?
Renungan diterjemahkan dari buku Journey Through Lent, Reflections on the Daily Mass Readings by Clement Harrold
Recent Comments