
Renungan Minggu Ketiga Paskah 1 Mei 2022
Bacaan Injil Yohanes 21:1-19
MENEMUKAN KRISTUS YANG BANGKIT
Setelah kematian Yesus, para murid tercerai berai; masing-masing kembali ke kehidupan sebelumnya – menjala ikan. Situasi hati mereka porak poranda. Padahal Yesus selalu ada di sisi mereka, mengamati dan mengingatkan mereka. Dalam Injil Yohanes hari ini, para murid mengalami perjumpaan yang luar biasa dengan Tuhan yang bangkit.
Menerima kenyataan: menghadapi kematian Yesus, ketakutan besar ada di dalam hati para murid; mereka seperti kawanan domba tanpa gembala. Satu-satunya cahaya sejati kini menghilang, menyebabkan arah tujuan hidup mereka tidak jelas – mereka tidak tahu ke mana harus pergi atau bagaimana melanjutkan ajaran Yesus.
Mendengarkan dan menanggapi: Yesus selalu muncul ketika para murid membutuhkan Dia. Yesus memahami situasi mereka, dan Ia hafal kebutuhan mendesak para murid, yaitu ikan, untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Indahnya, para murid akan melakukan apapun yang Yesus perintahkan untuk mereka lakukan. Mereka menebarkan jala di sisi kanan perahu, dan dengan demikian, mereka menyeret jala yang penuh dengan ikan.
Memecahkan roti: ini adalah momen yang luar biasa dalam seluruh kehidupan para murid. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memecahkan roti dan memberikannya kepada mereka masing-masing. Pada saat itu mereka alami, Yesus mengasihi mereka dan menubuatkan tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Tindakan pengulangan yang dilakukan Yesus ini membawa mereka kembali ke kehidupan nyata; yaitu ketika mereka bersama-sama dengan Yesus, diasuh oleh ajaran-Nya dan bekerja sama dengan-Nya dalam misi-Nya untuk membebaskan orang miskin dan tertindas.
Mengasihi Tuhan dan memiliki keberanian: Yesus meminta Petrus tiga kali sebagai konfirmasi cintanya kepada-Nya. Dengan bertanya kepada Petrus tiga kali, Yesus mengizinkan Petrus untuk menemukan cinta sejatinya kepada Yesus, sambil menemukan Cinta Tuhan yang paling utama dan tanpa syarat kepadanya.
Dengan mengakui dan menerima “kenyataan diri kita”, kita membuka hati kita kembali untuk memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menyembuhkan dan mengubah diri kita sendiri. Rahmat Tuhan menyertai kejujuran dan ketulusan kita. Bagaimanapun, terlepas dari kenyataan kita, ketidakpastian, ketakutan, kekhawatiran, dan bahkan rasa malu dan putus asa, dengan menemukan cinta sejati Yesus Kristus bagi kita, kita diangkat dan memiliki keberanian untuk diubah seperti yang Dia inginkan.
Mengapa Yesus bertanya tiga kali dan bukan satu atau dua kali? Apakah ada hubungan antara ini dan tiga kali Petrus menolak Yesus? Mungkin iya atau mungkin juga tidak. Boleh jadi, “Seberapa besar kita menyadari betapa lemahnya kita, betapa Yesus sangat mengasihi kita.”
Refleksi Oleh: Catherine Mary Dominican Sister East Timor
Recent Comments