
Renungan Minggu Ketiga Prapaskah 20 Maret 2021
Bacaan I: Keluaran 3:1–8a, 13–15 Mazmur: 103:1–2, 3–4, 6–7, 8, 11
Bacaan II: 1 Korintus 10:1–6, 10–12
Injil: Lukas 13:1–9
Renungan dari buku Journey Through Lent, Reflections on theDaily Mass Readings by Clement Harrold.
Minggu Ketiga Prapaskah ini, Kitab Suci memberi kita peringatan dan janji.
Dalam bacaan pertama dari Keluaran 3—salah satu pasal yang paling penting di seluruh Alkitab—Tuhan menampakkan diri kepada Musa dan mengungkapkan identitas-Nya: “Akulah Dia.” Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa keseluruhan filsafat dan teologi Kristen Yahudi dibangun di atas satu pernyataan dasar ini—pernyataan yang secara definitif akan dimanifestasikan lebih dari seribu tahun kemudian dalam pribadi Yesus Kristus.
Namun, bersama dengan wahyu Ilahi ini, hadirlah janji Tuhan tentang Kerahiman Ilahi dan komitmen-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan mereka di Mesir.
Berikutnya ke bacaan Perjanjian Baru, dan kita melihat kelanjutan dari janji ini. Namun, seperti yang dikatakan St. Paulus kepada jemaat di Korintus, janji itu disertai dengan peringatan: “Sebab itu, siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, berhati-hatilah agar ia jangan jatuh” (1 Kor 10:12).
Demikian juga, dalam Injil, Yesus memberikan kepada kita perumpamaan tentang pohon ara. Dengan demikian, Dia membuat kita menyadari bahwa Tuhan sungguh berbelas kasih dengan menyetujui untuk mengizinkan pohon itu hidup selama satu tahun lagi. Tetapi di saat yang sama kita tidak bisa menguji kesabaran-Nya selamanya! Sebaliknya, kita harus menunjukkan semangat memperdalam kehidupan Kristiani, melakukan segala yang kita bisa untuk memupuk buah yang baik dalam jiwa kita. Benar, delapan belas orang yang tertimpa oleh menara yang jatuh tidak mati sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka, tetapi jika kita tetap dalam dosa kita, maka yakin bahwa kita akan menderita sesuatu yang jauh lebih besar daripada kematian fisik.
Jadi marilah kita menghadap Tuhan hari ini dalam doa, harapan, percaya pada janji-janji Dia yang sabar dan berlimpah kebaikan.
Apa yang harus saya lakukan hari ini terhadap hal hal yang saya lebih sukai namun harus saya hindari?
Bagaimana saya dapat berkomitmen untuk menyerahkan ketidaknyamanan saya kepada Tuhan dan melakukan tugas ini dengan sukacita dan semangat?
Refleksi pohon Ara: ketika kita minta orang lain untuk bisa bermanfaat, maka kita harus sudah bermanfaat lebih dulu, dan dengan pengalaman yg ada, kita bantu dia agar bisa membawa manfaat bagi sesama